Transkrip Percakapan Vladimir Putin dan Joko Widodo di Kremlin

Transkrip Percakapan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Joko Widodo di Kremlin, Moskow, Rusia.

Vladimir Putin: Yang Mulia Bapak Presiden! Saya sangat senang untuk bertemu Anda di Rusia, di Moskow. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjalin hubungan yang sangat baik dengan Rusia selama puluhan tahun setelah penetapan hubungan diplomatik. Hubungan kita berkembang di semua bidang, termasuk ekonomi, politik, keamanan, khususnya pemberantasan terorisme. 

Tahun lalu, perdagangan kita naik 42%, tahun ini kita menyaksikan kenaikannya yang makin cepat. Saya tahu bahwa Indonesia berminat pada pengembangan hubungan dengan Uni Ekonomi Eurasia, sedangkan pada bulan Mei kita mengambil keputusan tentang mulainya proses pendekatan dengan organisasi regional tersebut. Tahun ini KTT G20 akan diadakan di bawah kepemimpinan Indonesia, tahun depan Indonesia akan memimpin ASEAN. Saya yakin semua isu tersebut akan kita bahas hari ini. 

Kita sudah berbicara melalui telepon, Anda telah menyampaikan kekhawatiran dan minat terhadap isu resolusi yang berkaitan dengan krisis di Ukraina, di Donbass. Tentu saja saya akan menginformasikan Anda secara detail tentang semua perkembangan di sana dan pandangan kami terhadap masalah tersebut.

Kita pernah bertemu di Kota Sochi pada 2016. Saya datang ke Moskow bukan hanya sebagai presiden Indonesia, melainkan juga sebagai pemimpin G20. Sebagai pemimpin G20, Indonesia akan terus berupaya untuk menyelesaikan situasi sulit saat ini yang berkaitan dengan pandemi, serta supaya G20 dapat terus menjadi katalisator dalam pemulihan ekonomi global.

Izinkan saya menyampaikan beberapa hal. Saya sangat senang bahwa Anda mulai berbicara dengan kami tentang situasi ini karena perang berpengaruh besar terhadap isu pangan. Perang tidak hanya berpengaruh pada Indonesia saja, tetapi komunitas internasional karena Rusia dan Ukraina merupakan salah satu lumbung terbesar pangan dunia. Upaya pemulihan rangkaian pasokan dunia tidak mungkin tercapai tanpa integrasi pasokan pangan dan pupuk mineral Rusia serta pasokan biji-bijian Ukraina. Sehubungan dengan hal itu, saya berharap Rusia tidak akan melanjutkan larangan ekspor biji-bijiannya, termasuk gandum, dan tidak akan memberlakukan kuota atau pembatasan pupuk.

Vladimir Putin: Yang Mulia Presiden, isu-isu yang Anda angkat sangat penting. Saya ingin langsung menggarisbawahi bahwa kami tidak memberlakukan pembatasan apa pun terhadap ekspor pupuk. Pada awal tahun lalu, kami pernah berpikir bagaimana supaya, sebagai prioritas, memenuhi kebutuhan sektor pertanian kami dulu. Namun, kini, volume produksi pupuk di Rusia begitu besar sehingga kami tidak membatasi ekspor produk tersebut ke luar negeri.

Hal yang sama juga berlaku untuk pangan. Dunia memproduksi 800 juta ton gandum. Tahun lalu, Rusia mengekspor ke luar negeri 40 juta ton biji-bijian. Tahun ini, kami bersedia mengekspor kira-kira 50 juta ton. Adapun terkait gandum, Rusia memegang posisi pertama dalam pasokan produk tersebut ke pasar dunia. Belakangan ini ada diskusi tentang ekspor gandum Ukraina. Sesuai data Kementerian Pertanian AS, angka tersebut mencapai 6 juta ton gandum. Sesuai data kami, angka itu mencapai 5 juta ton. Kalau kita mempertimbangkan volume produksi di seluruh dunia, yakni 800 juta ton, kita mengerti bahwa volume tersebut tidak memengaruhi pasar internasional. Ini hanya 2,5%. Dan persentase dari total yang diproduksi di seluruh dunia hanya 0,5%. Meski begitu hal ini juga penting dan kami tidak menghambat ekspor biji-bijian Ukraina. Angkatan Bersenjata Ukraina telah memasang ranjau masuk pelabuhan mereka. Tidak ada siapa pun yang mengganggu mereka untuk menghapus ranjau-ranjau tersebut dan mengeluarkan kapal dengan gandum. Kami menjamin keamanannya.

Selain itu, ada kesempatan yang lain untuk ekspor: melalui Rumania, Danube, dan rute selanjutnya melalui Laut Hitam, Polandia, Belarus, dan pelabuhan-pelabuhan Laut Azov. Saya menceritakan hal ini secara terperinci kepada rekan-rekan kami dari Uni Afrika. Kami selalu mengomunikasikan isu ini dengan badan PBB terkait, UNCTAD, yang bersusah payah menangani isu-isu ini dengan perwakilan Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Masalahnya adalah bahwa negara-negara ini telah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa pelabuhan kami, membuat asuransi kargo dan pengangkutan kian sulit. Semua hal ini menciptakan masalah tertentu untuk pasar makanan dan pupuk dan itu, saya ulangi, sedang dibahas dengan keterlibatan langsung Sekretaris Jenderal PBB, Tuan Guterres. Baik pimpinan pemerintah Rusia maupun saya pribadi selalu berhubungan dengan rekan-rekan kami di PBB. Saya memahami keprihatinan Anda, Bapak Presiden, dan saya siap untuk memberi tahu Anda secara lebih terperinci tentang apa yang kami lakukan di bidang ini sehingga kami dapat berkontribusi untuk mengamankan pasokan makanan dan pupuk untuk pasar dunia.

Joko Widodo: Yang Mulia Bapak Presiden, apakah ada kemungkinan seperti itu, apakah ada pendekatan seperti itu di mana tidak ada keamanan? Selama pertemuan G7, kami juga membahas bahwa pangan dan pupuk tidak menjadi bagian dari sanksi.

Vladimir Putin: Secara formal mereka tidak menjadi bagian dari sanksi, itu benar. Tetapi para pemilik perusahaan kami yang memproduksi pupuk, dan bahkan anggota keluarga mereka, telah terkena sanksi. Hal ini menyulitkan penandatanganan kontrak. Hal ini juga membuat transaksi keuangan lebih sulit. Mereka telah menjatuhkan sanksi pada asuransi kargo. Artinya, secara formal mereka tidak menjatuhkan sanksi terhadap beberapa produk, tetapi menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga pemasokannya ke pasar luar negeri menjadi lebih sulit.

Salah satu negara pemimpin untuk pasokan pupuk adalah Belarus. Sanksi langsung telah diberlakukan terhadap produk-produk ini dari Belarus. Bersama Belarus, Rusia memproduksi 25% pupuk dan memasok 45% pupuk ke pasar. Terlepas dari segala hal lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan operasi militer khusus kami di Donbass, di Ukraina, semuanya dimulai setahun yang lalu dan berhubungan dengan kebijakan energi yang keliru dari Barat. Akibat kesalahan nyata di sektor energi ini, harga gas yang merupakan salah satu produk utama untuk produksi pupuk, telah meningkat tajam. Harga-harga naik dan banyak perusahaan tutup begitu saja karena memproduksi produk-produk ini tidak lagi ekonomis.

Adapun terkait pangan, setelah pandemi, negara-negara Barat mulai mengeluarkan emisi, meningkatkan defisit anggaran mereka, dan mulai meraup komoditas pangan dari pasar dunia dengan emisi ini. Harga pangan naik tajam. Misalnya, AS biasa memasok lebih banyak makanan ke pasar dunia daripada yang dibelinya. Sekarang mereka membeli $17 miliar lebih banyak daripada yang mereka jual. Itu berarti bahwa mereka mencetak uang, mengedarkannya, dan dolar itu digunakan untuk membeli makanan. Harga-harga telah naik, dan membuat negara-negara berkembang berada dalam posisi terburuk.

Namun, kami mendiskusikan semua topik ini secara in absentia dengan mereka. Kalian bisa berdebat sesuka kalian, tetapi sekarang kita perlu mengambil tindakan untuk mencegah situasi menjadi tragis. Saya berharap bahwa Anda juga akan dapat bekerja sama dengan kami, dengan negara-negara lain yang terlibat, dan dengan PBB menjelang KTT G20.



Pernyataan Pers tentang Perundingan Rusia-Indonesia 1 Juli, 2022 oleh Kremlin
Pada akhir perundingan Rusia-Indonesia, Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dan dan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan pernyataan pers.

Vladimir Putin: Yang Mulia Presiden! Hadirin sekalian! Kami sangat senang menyambut Presiden Republik Indonesia di Kremlin. Ini adalah kunjungan pertama Anda sebagai presiden ke ibu kota kami, Moskow. Kami senang sekali. Saya ingin menggarisbawahi bahwa Indonesia adalah salah satu mitra utama kami di kawasan Asia-Pasifik. Hubungan Rusia-Indonesia bersifat konstruktif dan saling menguntungkan, berkembang terus berdasarkan tradisi persahabatan, dan bantuan timbal balik yang sudah lama ada.

Saya mengenang bahwa, dahulu, negara kami turut mendukung pengakuan kemerdekaan negara Indonesia, memperkuat kedudukan republik muda tersebut di kancah internasional. Dengan partisipasi para ahli, insinyur, pembangun kami, objek-objek besar infrastruktur transportasi dan industri, stadion, rumah sakit, lembaga-lembaga penting lainnya dibangun di Indonesia, banyak di antaranya bahkan masih beroperasi hingga saat ini. Adapun pembicaraan saya dengan Presiden Joko Widodo hari ini dilakukan secara profesional dan sangat substantif.

Tentu saja, kami memberi perhatian khusus pada perdagangan dan interaksi ekonomi yang menunjukkan dinamika baik. Pada tahun 2021, misalnya, omzet perdagangan bilateral meningkat lebih dari 40 persen, dan dalam lima bulan pertama tahun ini peningkatannya lebih dari 65 persen. Dalam konteks ini, kedua belah pihak telah menyatakan minatnya untuk mengintensifkan kerja Komisi Bersama Rusia-Indonesia untuk Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi dan Teknik.

Banyak perusahaan kami, termasuk perusahaan energi, yang beroperasi di Indonesia. Ada ketertarikan dalam pengembangan industri tenaga nuklir nasional.  Perusahaan negara ROSATOM yang memiliki pengalaman dan kompetensi unik, teknologi yang tak tertandingi, siap berpartisipasi dalam proyek bersama, termasuk yang terkait dengan pemanfaatan teknologi nuklir di bidang nonenergi, misalnya dalam bidang kesehatan dan pertanian.

Ada prospek yang baik untuk kontak bisnis pada pengembangan infrastruktur transportasi dan logistik. Secara khusus, perusahaan Kereta Api Rusia (RZhD) dapat bergabung dengan inisiatif pemerintah Indonesia untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan. Ibu kota Rusia, Moskow, yang menunjukkan kecepatan dan kualitas pembangunannya sendiri yang sangat baik, juga dapat ikut serta dalam pekerjaan ini — tentu saja pekerjaan berskala besar.

Tentu saja, selama pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo, ada juga pembahasan pada bidang kerja sama yang penting, seperti kerja sama kemanusiaan, pertukaran budaya, turis, dan pendidikan. Pelonggaran pembatasan perjalanan COVID-19 bagi warga negara serta rezim bebas visa yang ada juga akan berkontribusi pada hal tersebut. Kemungkinan dimulainya kembali penerbangan langsung dari Moskow ke Pulau Bali pun sedang dibahas. Bidang kerja sama kemanusiaan lainnya yang menjanjikan adalah perluasan dialog antardaerah dan antaragama, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi Islam terbesar di dunia. Saya ingin menyebutkan bahwa baru-baru ini, untuk kali pertama, delegasi daerah muslim Rusia mengunjungi Jakarta.

Kami telah berulang kali menekankan bahwa ketidakseimbangan di pasar pangan merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan makroekonomi yang tidak bertanggung jawab selama bertahun-tahun di beberapa negara, emisi yang tidak terkendali, dan akumulasi utang yang tidak terjamin. Situasi ini makin memburuk akibat pandemi virus korona.

Namun, negara-negara Barat, yang tidak ingin mengakui kesalahan arah ekonomi mereka, makin mengacaukan produksi pertanian global dengan memberlakukan pembatasan pasokan pupuk Rusia dan Belarus, mempersulit ekspor biji-bijian Rusia ke pasar dunia, mempersulit asuransi kapal kargo kering yang membawa biji-bijian dan untuk melakukan pembayaran bank atas kontrak perdagangan.

Izinkan saya menekankannya sekali lagi: Rusia telah dan tetap menjadi salah satu produsen dan eksportir makanan utama dunia. Produk pertanian kami dipasok ke 161 negara di dunia. Tahun lalu, kami mengekspor lebih dari 43 juta ton sereal, termasuk 33 juta ton gandum saja. Tahun ini, kami memprediksi panen biji-bijian yang baik, yang akan memberi kami kesempatan untuk meningkatkan pasokan kami ke pasar luar negeri — hingga 50 juta ton produk terkait.

Demikian pula, kami siap untuk sepenuhnya memenuhi permintaan pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium dari Indonesia dan negara-negara sahabat lainnya serta bahan baku untuk produksinya. Seperti diketahui, pangsa Rusia di pasar dunia pupuk mineral adalah 11 persen, dan untuk beberapa jenis pupuk lebih dari 20 persen. Tahun lalu, kami mengirimkan 37 juta ton produk ini ke luar negeri.

Kami tentu saja berniat untuk terus memenuhi kewajiban kontrak kami secara cermat untuk memasok bahan makanan, pupuk, serta energi dan barang penting lainnya. Dalam hal ini, kami menganggap sangat penting untuk memulihkan rantai pasokan yang telah terganggu oleh sanksi.

Tentu saja, pembicaraan tersebut juga menyentuh beberapa masalah regional dan internasional yang paling mendesak. Saya memberi tahu Yang Mulia Presiden secara terperinci tentang situasi sekarang di Ukraina. Rusia dan Indonesia akan mengoordinasikan posisinya di lingkup PBB dan organisasi internasional lainnya, termasuk ASEAN, di mana Indonesia akan menjadi pemimpinnya tahun depan. Omong-omong, beberapa hari yang lalu, Presiden Joko Widodo menghadiri KTT BRICS Plus sebagai tamu undangan.

Kami tentu saja mendukung upaya Indonesia, dan secara pribadi Yang Mulia Presiden, dalam mempersiapkan dan menjadi tuan rumah KTT G20 yang akan diselenggarakan di Indonesia tahun ini. Sebagai penutup, saya sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Presiden atas percakapan yang produktif. Saya yakin bahwa kesepakatan yang telah kita capai hari ini akan semakin memperkuat kemitraan Rusia-Indonesia.

Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Presiden.



Joko Widodo: Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Putin yang telah menerima saya dalam kunjungan ke Moskow.

Beberapa hal kami rundingkan dan saya bicarakan dalam pertemuan tersebut. Pertama, bahwa isu-isu perdamaian dan kemanusiaan selalu menjadi prioritas politik luar negeri Indonesia. Konstitusi Indonesia mengharuskan Indonesia untuk selalu berusaha memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia. Dalam konteks itulah, saya mengunjungi Kyiv dan, sekarang, Moskow.

Kedua, seperti yang saya nyatakan di Kyiv, walaupun situasi sekarang ini masih sangat rumit, saya masih mengatakan bahwa penting untuk memajukan penyelesaian damai dan juga dialog terbuka. Saya menyampaikan pesan Presiden Zelensky kepada Presiden Putin dan menyatakan kesediaan saya untuk menjalin komunikasi dengan kedua pemimpin.

Ketiga, ada banyak diskusi tentang pentingnya pangan dan pupuk bagi masyarakat global. Ratusan juta orang menderita akibat terganggunya rantai pasokan makanan, terutama di negara-negara berkembang.

Saya menghargai bahwa Presiden Putin mengatakan bahwa Rusia menjamin keamanan pasokan makanan dan pupuk tidak hanya dari Rusia, tetapi juga dari Ukraina.

Keempat, demi kemanusiaan, saya mendukung upaya PBB untuk mengintegrasikan kembali makanan dan pupuk Rusia dan produk makanan Ukraina ke dalam rantai pasokan global. Khususnya yang berkaitan dengan pasokan melalui laut dari Ukraina, Presiden Putin mengatakan bahwa dia akan menjaminnya.

Dan kelima, kami telah membahas secara terperinci kerja sama antara Rusia dan Indonesia, bukan hanya dalam bidang investasi, perdagangan, tetapi juga pariwisata. Kami akan melanjutkan kerja sama ini dan akan membentuk kelompok untuk membahasnya secara terperinci.

Kesimpulannya, saya dapat mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki kepentingan apa pun, kecuali harapan bahwa perang akan segera berakhir, dan rantai pasokan makanan, pupuk, dan energi harus segera dipulihkan karena kehidupan ratusan juta, bahkan miliaran orang terdampak.

Saya mengimbau kepada semua pemimpin dunia untuk menghidupkan kembali semangat multilateralisme, semangat perdamaian, dan kerja sama. Hanya dengan semangat ini, perdamaian bisa dicapai.

Terima kasih, Yang Mulia Presiden.

Post a Comment

Previous Post Next Post