Header Ads


Antara "The Mother of Satan", Ibu-ibu Surabaya dan ISIS

Istilah "The Mother of Satan" jadi tenar menyusul terjadinya serangkaian teror bom di Surabaya. Adalah Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mengawali penyebutan istilah "The Mother of Satan" ketika mengungkap data-data bahan peledak hasil penyelidikan polisi terkait tragedi ledakan bom beruntun di Surabaya. "The Mother of Satan" makin tenar karena pelaku bom bunuh diri melibatkan ibu-ibu dan anaknya. Seperti apakah "The Mother of Satan"?

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, berdasarkan penyelidikan Puslabfor, sebagian besar bom pipa dalam teror bom Surabaya memakai bahan peledak TATP (triaceton triperoxida). Bahan-bahan itu, setelah diramu sedemikian rupa, diubah menjadi bubuk putih yang bersifat high explosive. “High explosive tidak harus jumlahnya besar. Ledakan besar itu bisa dihasilkan dari perubahan dari padat ke gas yang begitu cepat, didukung oleh kontener yang tertutup,” tegas Tito.

Bom ini biasa disebut sebagai “The mother of satan,” karena daya ledak dan sensitivitasnya. “Kalau bahan high explosive lain mesti dipicu oleh detonator, maka ‘The Mother of Satan’ kadang cukup dengan getaran atau panas,” terang Tito.

Kapolri menduga pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo diduga berkaitan dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berdasar jenis bom. Ciri ini terlihat dari material bom yang dirakit oleh para teroris.

"Kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah) ini, khususnya cabang Surabaya, mereka membuat bom dan kita lihat sementara ditemukan Puslabfor bahan peledaknya TATP (triacetone triperoxide). Ini bahan peledak yang sangat terkenal di kelompok ISIS di Suriah dan Irak, dengan julukan 'mother of satan' tapi diramu sedemikian rupa," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mapolda Jatim, Senin (14/5/2018).

Para teroris itu membuat bom pipa dalam serangan membabi buta di tiga gereja di Surabaya; Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, GKI Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno.

Teroris pengebom sejumlah gereja, dan rusunawa di Sidoarjo, menggunakan bom jenis TATP (triaceton triperoxide) yang dijuluki 'The Mother of Satan'. TATP merupakan bom kimiawi yang memiliki daya ledak tinggi.

Polisi menyatakan TATP merupakan jenis bom yang mudah dibuat, namun sangat sensitif dan tidak stabil. Bom ini termasuk dalam kategori high explosive. Bentuk senyawa kimia TATP ini berupa serbuk dengan butiran seukuran gula pasir.

TATP ini memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suhu udara di atas 86°C, gesekan benturan dan aliran listrik. TATP tidak larut dalam air dan baunya menyerupai aseton. Velocity of detonate (VoD) TATP mencapai 5.300 m/s.

"Nama lainnya adalah mother of satan atau peroxyaceton," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, saat menjelaskan soal teror bom di Mal Alam Sutera, 29 Oktober 2015 lalu. Saat itu Tito masih menjabat Kapolda Metro Jaya.
Di Surabaya, 'Mother of Satan' pertama meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela pukul 06.30 WIB, Minggu (13/5). Bom itu diledakkan 2 putra teroris Dita Oeprianto (48), YF (18) dan FA (16) yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Selain pelaku, ada 5 warga yang jadi korban jiwa.

Bom kedua meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya yang terletak di Jl Diponegoro pukul 07.15 WIB di hari yang sama. Bom itu diledakkan oleh istri Dita, Puji Kuswati (43) yang mengajak 2 putrinya yakni FS (12) dan FR (9). Mereka sebelumnya diantar oleh Dita dengan mobil. Tak ada warga yang jadi korban jiwa dari ledakkan ini.

Bom ketiga yakni diledakkan sendiri oleh Dita di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pukul 07.53 WIB. Dita meledakkan bom dengan menabrakkan mobil ke gereja tersebut. Ada 6 warga yang jadi korban jiwa.

Selanjutnya adalah bom yang meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Bom itu meledak saat penindakan oleh Densus 88. 'Mother of Satan' ini jadi senjata makan tuan yang menewaskan 3 terduga teroris.

Mother of Satan bukan kali ini dipakai oleh teroris di Indonesia. Sebelumnya pada bom yang meledak di Kampung Melayu pun menggunakan jenis bom yang sama.

Bom di Kampung Melayu yang juga menggunakan 'Mother of Satan' meledak pada Rabu (24/5/2017). Sebanyak 3 anggota Polri dan 2 pelaku tewas akibat peristiwa ini.

Pada September 2017, 'Mother of Satan' meneror Paris, Prancis. Bahan bom ini ditemukan dalam sebuah apartemen di Villejuif, pinggiran Paris pada Rabu (6/9/2017) waktu setempat.

Teroris yang beraksi di Brussels, Belgia, tahun 2016 pun diduga memakai 'Mother of Satan'. Sebanyak 31 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka pada teror yang terjadi di bandara Brussels pada Selasa (22/3/2016).
Powered by Blogger.