Akses Jalan Ditutup Tembok, Keluarga Umar Terancam Terisolasi : Akhirnya Jadi Viral

Warga dusun Morangan desa Bolorejo Kecamatan Kauman Tulungagung, Umar Syaifudin (42) mengadukan nasibnya ke media sosial setelah jalan masuk ke rumahnya ditutup tembok setinggi dua meter. Umar dan keluarganya kini hanya bisa numpang lewat melalui jalan kecil milik pekarangan tetangganya yang berada di barat rumahnya. 


"Jika jalan itu kelak ditutup oleh pemilik lahan, bisa dipastikan keluarga saya akan terisolasi karena tak ada akses jalan lagi," kata Umar
Umar lantas menunjukkan tanah hasil pembeliannya yang telah disertifikat. Dalam gambar yang ditunjukkan, batas tanahnya sungai dan jalan umum.

"Atas dasar inilah maka saya membeli tanah dan membangun rumah, untuk menutup sungai ini saja juga izin irigasi, namun ternyata pintu halaman saya ditutup," jelasnya
Umar lalu memposting keluhannya di media sosial Facebook dan mengatakan apakah sertifikat yang dia miliki tidak berkekuatan hukum sehingga dirinya harus diperlakukan sedemikian rupa.
"Jika masalahnya pribadi, selama ini kami baik - baik saja sama keluarga di depan rumah," tambah Umar

Umar telah mengadukan masalah ini ke desa dan Polsek, namun aduan tersebut kandas dengan alasan keluarga mbah Gondo memang pemilik sah tanah yang kini telah ditembok itu.
"Keluarga besar kita memang memiliki tanah itu, jadi atas dasar itulah kami sepakat membuat tembok," kata keluarga besar Mbah Gondo melalui Ratna.

Ratna lantas menceritakan, keluarganya telah melakukan klarifikasi ke pihak agraria (Kantor Pertanahan Kabupaten-red) dan mendapatkan jawaban jika ada kesalahan dalam membuat gambar pada sertifikat yang dipegang Umar.

"Karena ada kesalahan, maka itu kembali pada hak kami sesuai pethok C Desa yakni tanah itu sejak dulu memang milik mbah Gondo," jelasnya
Ratna mengakui ada masalah pribadi sebelumnya dengan Umar yang tanpa permisi menutup sungai untuk jalan masuk ke rumahnya. "Sungai itu juga masih milik mbah Gondo, kok dia bangun tanpa izin atau permisi dengan keluarga besar kita. Apa salahnya kami akhirnya juga membangun tembok di tanah milik kami," tegas Ratna

Ratna mengaku tidak terima jika masalah tersebut diunggah di media sosial, dirinya menuntut agar Umar membersihkan nama baik keluarganya akibat posting itu.
"Saya sudah dapat informasi dari karyawan toko saya jika masalah tersebut diposting di Medsos, saya tidak terima jika nama besar keluarga saya tidak dibersihkan," tandasnya

Meski menutup, Ratna menyatakan masih memberi akses jalan ke tanah yang berada di selatan pekarangan keluarga besarnya itu. "Jalan yang kami berikan sudah kami buka, mau dipakai oleh berapa orang ya monggo. Bahkan jika Umar tidak malu memakai jalan itu juga silakan, tidak mungkin jika tanah dibagi tiga saya memberi tiga jalan. Tetap kami beri jalan, kami sadar butuh tetangga juga," tambahnya

Sementara itu kepala desa Bolorejo, Iswanto saat dikonfirmasi masih berada di tanah suci untuk umroh. Kepala Dusun Morangan Sutono mengaku telah berupaya melakukan mediasi tapi buntu atau tidak menemui kata sepakat. "Kita (desa) telah lakukan mediasi tapi tidak ada kesepakatan," jawab Tono

Sutono menjelaskan jika berdasarkan pethok C desa memang tanah yang dibangun tembok masih merupakan milik keluarga mbah Gondo. "Berdasarkan buku desa memang masih milik mbah Gondo, pajak juga masih dibayar atas nama keluarga mbah Gondo," paparnya

Pihak desa menurut Sutono belum bisa memberi solusi terkait masalah tersebut, pasalnya masing-masing pihak masih ngotot mempertahankan argumen yang dimiliki.