Kisah Algojo Hukum Pancung: Sekali Tebas, Kepala Putus Menggelinding

Seorang tenaga kerja Indonesia asal Madura, Zaini Misrin Arsyad, telah dihukum pancung di Arab Saudi pada Minggu (18/3). Presiden Joko Widodo telah meminta bantuan Raja Salman untuk meninjau kembali kasus pidana yang menjerat WNI tersebut, namun eksekusi tetap dijalankan, yakni dengan pancung kepala.

Prosesnya dilakukan oleh algojo eksekutor hukum pancung. Setelah tangan terpida diikat dan mata ditutup, dengan sekali tebas saja, pedang algojo mampu memisahkan kepala terpidana hingga jatuh menggelinding beberapa meter. Begitulah proses hukum pancung di Arab Saudi.

Dua Sosok Algojo Hukum Pancung
Di Timur Tengah, ada dua sosok yang dikenal sebagai algojo eksekutor hukum pancung (penggal kepala). Algojo resmi Pemerintah Mesir adalah Haji Abd al-Nabi. Sedang algojo resmi  Arab Saudi adalah Abdallah Al-Bishi.

Kedua algojo, baik Al-Nabi maupun Al-Bishi, mengaku sangat menikmati pekerjaannya, sebagai eksekutor nyawa orang. Bahkan, Al-Nabi mengaku sudah mengeksekusi lebih dari 800 orang selama menjalani pekerjaannya sebagai algojo.

”Di semua kejujuran, saya mencintai pekerjaan saya. I just love it! Saya tidak pernah mengatakan 'tidak' ketika mereka membutuhkan saya di tempat kerja,” kata al -Nabi dalam sebuah wawancara dengan saluran Video 7 Mesir, seperti dikutip Daily Mail.

Dalam sebuah wawancara itu, Al-Nabi begitu bersemangat membahas masalah pekerjaannya sebagai algojo. Dia mengklaim, pekerjaan yang membunuh nyawa orang itu karena menjalankan perintah Tuhan. Selain itu, orang-orang yang dieksekusi, katanya, hanya para penjahat.

”Saya mengasihi orang-orang, dan orang-orang mencintai saya," kata Al-Nabi. "Tapi ketika datang untuk melakukan pekerjaan saya, saya sulit.”

Al –Nabi yang memiliki tangan kekar, mengatakan keahliannya sebagai algojo dia pelajari sejak kecil. "Saya adalah setan kecil, " akunya. ”Saat usia 13 dan 14  tahun, hobi saya adalah menangkap kucing, untuk dililit lehernya dengan tali, mencekik dan menenggelamkannya ke dalam air.”

”Saya akan menangkap binatang, bahkan anjing juga saya tenggelamkan ke dalam air.  Pencekikan adalah hobi saya,” imbuh Al-Nabi. ”Ketika saya melamar pekerjaan dan melakukannya dengan baik melalui tes, itu membuktikan bahwa saya bisa menguasai tekanan psikologis dan sebagainya.”

Sedangkan algojo Arab Saudi terkemuka, Abdallah al- Bishi, mengaku pernah mengeksekusi 10 orang dalam satu hari. Eksekusi yang biasa dia lakukan adalah pemenggelan leher dengan pedang, sesuai hukum atau syariat di Arab Saudi.

”Setiap algojo yang ingin bekerja di bidang ini, harus tahu bagaimana menerapkan pengetahuan teoritis. Dia harus tahu bagaimana cara berdiri di samping orang yang dia eksekusi, bagaimana dia bisa berkonsentrasi pada pukulan, dan bagaimana posisi tanah. Sisanya itu, adalah hal mudah,” ujar Al-Bishi.

”Setelah misi selesai, saya merasa lega. Saya pulang santai. Saya bermain dengan anak-anak. Kami bersenang-senang. Kami makan siang. Kadang-kadang kita pergi keluar. Lain waktu lagi, kami tinggal di rumah . Semuanya normal. Tidak memiliki efek pada saya.”

Saad Al-Beshi, mengaku tidak terlalu mempersoalkan gaji seorang algojo. Karena itu, dia tidak bersedia membeberkan berapa gajinya sebagai algojo. Namun demikian, Muhammad Saad Al-Beshi setidaknya mendapat hadiah pedang dari pemerintah yang nilai terbilang cukup mahal. Dia menyebutkan harga pedangnya sekitar 20 ribu riyal (Rp 46 juta).

''Pedang ini adalah pemberian dari pemerintah. Saya rajin merawat dan mengasahnya. Saya selalu memastikan tidak ada noda darah yang tertinggal di pedang,'' kata Muhammad Saad Al-Beshi seperti dikutip Arab News. ''Pedang ini sangat tajam. Orang-orang merasa terheran-heran betapa cepatnya pedang ini memisahkan kepala dari badan.''

Banyak orang menyaksikan saat Muhammad Saad Al-Beshi menjalankan tugasnya. ''Ada yang takut ketika melihat eksekusi. Saya tidak tahu kenapa mereka datang dan melihatnya jika merasa mual ketika menyaksikannya. Saya? Saya tetap bisa tidur nyenyak,'' ujarnya.

Pengakuan Seorang Algojo Eksekutor Hukuman Pancung Arab Saudi
Muhammad Saad al-Beshi sangat hafai prosesi hukuman mati yang dia laksanakan. “Tahanan saat itu diikat dan ditutup matanya. Dengan sekali tebas pakai pedang, saya memisahkan kepalanya, yang jatuh menggelinding beberapa meter jauhnya,”

Bukan hal yang menakutkan baginya meski harus menjalankan perintah memenggal kepala para terpidana mati, tak terkecuali wanita. Padahal secara pribadi, al-Beshi merupakan pribadi antikekerasan terhadap perempuan. “Saya memang menentang kekerasan terhadap perempuan. Namun, jika semua perintah (pemenggalan) datangnya dari Tuhan, saya harus melaksanakannya.

Saya bangga bisa melakukan pekerjaan untuk Tuhan,” ujar Beshi seperti dikutip harian Arab News.
Berdasarkan hukum Islam yang berlaku di Arab Saudi, hukuman mati pantas diberlakukan untuk seorang pembunuh, pemerkosa, penyelundup narkoba, perampokan bersenjata dan pengguna narkoba.

Selain diminta memenggal kepala tahanan, tak jarang Beshi juga diminta menembak mati tahanan perempuan. “Semua tergantung permintaan. Kadang mereka menyuruh saya menggunakan pedang, kadang pula dengan senjata api. Namun, seringkali saya memakai pedang,” ujarnya.

Ketika diwawancarai, Beshi bekerja sebagai eksekutor di penjara Taif. Di antara tugasnya di sana, ia harus memborgol dan menutup mata tahanan yang menghadapi hukuman mati. Pernah, dalam sehari ia memenggal 10 kepala terpidana mati.

Betapapun kuat mental Beshi, toh ia mengakui bahwa ketika pertama kali menjadi eksekutor di Jeddah, ia sangat gugup. Pasalnya, banyak orang yang menyaksikan eksekusi itu. Namun, kini Beshi telah mampu mengatasi “demam panggung”-nya

“Tahanan saat itu diikat dan ditutup matanya. Dengan sekali tebas pakai pedang, saya memisahkan kepalanya, yang jatuh menggelinding beberapa meter jauhnya,” kenang Beshi tentang pemenggalan pertama yang dilakukannya. Kala itu, banyak saksi yang muntah usai menyaksikan pemenggalan tersebut.

Beshi mengaku tidak tahu mengapa mereka ikut menyaksikan “penjagalan” kalau tak tahan.Meski menjadi penjagal kelas wahid di negaranya, Beshi menyebut tak ada orang yang takut pada dirinya. Kehidupannya di masyarakat sama seperti warga awam kebanyakan. “Saya tetap memiliki banyak saudara dan teman, terutama di masjid. Saya juga memiliki kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Tidak ada masalah dengan kehidupan sosial saya,” tegasnya.@