Bangkai U-Boot Bukti Jejak Nazi Jerman di Indonesia.

Share:
Kerjasama Jepang dengan Jerman di Indonesia

Penemuan bangkai kapal selam U-Boat 168 di dasar Laut Jawa, perairan Kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, pada 2013, menjadi bukti bahwa tentara Nazi Jerman memang pernah datang wilayah Indonesia. Hanya saja, kehadiran tentara Nazi, Jerman ke Indonesia bukan dalam rangka invasi.

Perwakilan Komunitas Sejarah Roodebrug Surabaya, Adi Erlianto Setiawan, mengungkapkan, awal kehadiran U-Boat di Indonesia terjadi pada tahun 40-an ketika Jerman bersekutu dengan Jepang,
Kala itu, tentara Jepang meminta bantuan Jerman untuk mengawal kapal pengangkut materi bahan baku seperti karet. Pada tahap pertama terjadi pengiriman sebanyak 12 kapal selam dengan nama operasi Monsun Gruppe yang dilakukan Juni-Juli 1943. Kemudian pada tahap kedua dilakukan pada September-Oktober dari Penang menuju Batavia (Jakarta),

Pengawalan dilakukan Nazi ini karena keadaan perairan Indonesia setelah 1943 sama bahayanya dengan perairan Atlantik. Kala itu, kapal selam yang pertama kali hadir di Batavia adalah U-Boat 511. Setelah berlabuh di Tanjung Priok, para awak kapal tinggal di Batavia.

Situasi pelabuhan masa itu digambarkan sangat ramai dengan tentara. Para tentara Jerman di Batavia diberikan identitas dengan nama Jerman dan Jepang bermarkas di Koninsplein (yang kini bernama Harmoni). Kapal selam lain yang pernah bersandar di Tanjung Priok, U-Boat 168.

Berdasarkan investigasi Komunitas Sejarah Roodebrug Surabaya, Adi Erlianto Setiawan, kapal U-Boat 168 akhirnya tenggelam setelah ditorpedo oleh kapal selam Belanda  pada 6 Oktober 1944  pukul 06.52 pagi. Saat itu, U-Boat 168 sudah diawasi 11 menit. "Kapal tersebut tak menyangka menerima serangan karena saat itu perwira sedang santai. Sonar tidak berfungsi karena kecepatannya 12 knots, kapal selam tersebut kemudian tenggelam setelah 6 serangan torpedo, 1 di antaranya mengenai kapal selam Jerman ini. Hanya 27 perwira yang selamat," beber Adi.

Reputasi Kapal Selam U-Boat 168
U-168 adalah kapal-U Tipe IXC/40 milik Kriegsmarine Jerman Nazi yang dibuat dan ditugaskan saat Perang Dunia II. Pondasinya diletakkan tanggal 15 Maret 1941 oleh Deutsche Schiff- und Maschinenbau AG di Bremen dengan nomor 'werk' 707. Kapal ini diluncurkan tanggal 5 Maret 1942 dan ditugaskan tanggal 10 Oktober di bawah pimpinan Kapitänleutnant Helmuth Pich. U-168 melakukan empat patroli dan pernah meneggelamkan tiga kapal berbobot total 8.008 ton, dan merusak satu kapal lain yang berbobot bruto 9.804 ton.

Patroli ke-1
Patroli pertama U-168 dimulai setelah berangkat dari Kiel tanggal 3 Maret 1943. Rutenya melintasi Kattegat dan Skaggerak di pesisir Norwegia, melalui 'celah' antara Islandia dan Kepulauan Faroe, lalu memasuki Samudra Atlantik di selatan dan barat daya Greenland. Kapal ini tiba di Lorient, Perancis, pada tanggal 18 Mei.

Patroli ke-2
Kapal ini kemudian bergerak ke Samudra Hindia. Di sana U-168 menenggelamkan kapal dagang uap Britania, SS Haiching, 80 mi (130 km) di sebelah barat barat daya Bombay (sekarang Mumbai) pada tanggal 2 Oktober 1943. U-168 tidak berhasil menyerang kapal terbang Catalina No. 413 Squadron RCAF pada tanggal 3 November. Empat ranjau laut seberat 250lb dijatuhkan setelah itu. Patroli berakhir di Penang, Malaya (sekarang Malaysia) tanggal 11 November.

Patroli ke-3
Kapal selam ini memulai patroi ketiga sekaligus patroli tersuksesnya dari Penang tanggal 7 Februari 1944. Tiga torpedo ditembakkan ke kapal angkut Britania, HMS Salviking, di selatan Ceylon (sekarang Sri Lanka) tanggal 14 Februari. Salah satu proyektilnya macet, namun dua lainnya berhasil menenggelamkan kapal tersebut.

Keesokan harinya, U-168 menenggelamkan kapal Yunani, Epaminondas C. Embiricos, sekitar 130 mi (210 km) di sebelah utara Atol Addu di Maladewa. Master dan Kepala Teknisinya ditawan dan diserahkan ke Jepang. Penangkapan Master-nya menggagalkan sidang disipliner yang mempertanyakan sebab ia memerintahkan kapal tersebut ditinggalkan meski tidak ada kerusakan, dan sebab kapal tersebut stasioner selama dua jam padahal mendapat perintah berlayar.

U-168 juga merusak kapal Norwegia, Fenris, menggunakan torpedo terakhirnya pada tanggal 21 Februari di sebelah barat Maladewa. Amunisinya senjata deknya tidak mencukupi untuk menenggelamkan kapal itu. Fenris pun berhasil melanjutkan pelayarannya ke Bombay. Kapal ini kembali ke Batavia (sekarang Jakarta) tanggal 24 Maret.

Patroli ke-4
Kapal selam ini meninggalkan Batavia tanggal 5 Oktober 1944. Pada 6 Oktober dini hari di Laut Jawa, U-168 terkena satu torpedo dari kapal selam Belanda HrMs Zwaardvisch. Serangan tersebut menewaskan 23 pelaut. 27 pelaut lainnya ditangkap. Pada akhir 2013, sejumlah penyelam menemukan bangkai kapal ini.

Helmuth Pich
Operasi Terakhir U-168
Helmuth Pich mengomando pelayaran terakhir kapal U-168 pada 6 Oktober 1944. Saat itu, kapal selam ini bergerak ke timur menuju Surabaya dari Batavia dan akan bertemu dengan U-537 dan U-862. Dari sana, sekelompok kapal selam penyerang akan beroperasi di pantai barat Australia, namun sebelum bertemu U-boot lainnya, U-168 ditemukan di permukaan oleh HNLMS Zwaardvisch kelas T di lepas pantai Jawa di Laut Jawa.

Letnan Komando Hendrikus A. W. Goossens segera mengubah arah kapal selam dan memerintahkan awak kapalnya menuju lokasi pertempuran. Pada pukul 06.53, 11 menit setelah penampakan kapal Jerman, Zwaardvisch melepaskan enam torpedo dari jarak 900 yd (820 m) pada jalur 95°.

Beberapa saat kemudian, sebuah ledakan terdengar oleh komandan Belanda sehingga dia mengangkat periskop-nya dan mengamati saat kapal musuh mulai tenggelam. Goossen juga melihat beberapa perwira dan awak kapal melarikan diri dari lubang palka menara komando dan mereka ditawan.

Torpedo mengenai haluan kapal U-168 dan ia dengan cepat tenggelam ke dalam perairan 220 m (720 ft) lepas pantai utara Jawa pada posisi 06°20′LU 111°28′BT. Dua puluh tiga orang tewas dan 27 menjadi tawanan; namun karena ruang di atas kapal Zwaardvisch terbatas, 22 dari tawanan dipindahkan ke sebuah kapal nelayan dan diizinkan untuk bebas. Mereka akhirnya berhasil sampai ke pantai Jawa. Para tawanan tersebut termasuk Kapit√§nluetnant Pich, tiga perwira lainnya dan satu bawahan terluka. Pich kemudian memberi tahu komandan Belanda bahwa kapal selamnya dihantam tiga kali meski hanya satu torpedo yang meledak.

U-168 merasa tidak melakukan pertahanan apa pun dalam aksi tersebut, sehingga kapal Jerman tersebut tenggelam mungkin tanpa menyadari bahwa mereka diserang sampai torpedo menghantamnya. Kriegsmarine yakin bahwa tenggelamnya U-168 adalah hasil dari "obrolan longgar" karena awak kapal yang membawa pacar orang Indonesia mereka ke atas kapal untuk pesta perpisahan. Mereka juga berasumsi bahwa posisi u-168 yang tepat ditemukan oleh Sekutu jauh sebelum pertempuran tersebut, walaupun laporan Belanda menunjukkan bahwa mereka bertemu dengan kapal Jerman secara kebetulan