Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Poncke Princen - Pejuang Bule Pemberani yang Berhati Lembut


“Saya ini kan mengenal Symphoni ke-9 ciptaan Beethoven. Bunyi syairnya antara lain semua anak manusia harus bersaudara. Mengenai perasaan sesama saudara itu, saya rasakan ketika saya mendekam di kamp konsentrasi Jerman. Saya pernah mau dihukum mati. Dan itulah pengalaman dari sebuah negara yang pernah menjajah, yang kemudian dijajah negara lain,” kata Poncke Princen dalam sebuah perbincangan (Kompas, 26/11/95).

Haji Johannes Cornelis (H.J.C.) Princen, yang lebih dikenal sebagai Poncke Princen, adalah salah satu tentara Belanda yang membelot menjadi tentara Indonesia. Dia lahir di Den Haag, Belanda, 21 November 1925 dan meninggal di Jakarta pada 22 Februari 2002 (umur 76 tahun). Nama “Poncke” konon diperolehnya dari roman yang digemarinya tentang pastur jenaka di Belgia Utara yang bernama Pastoor Poncke. Namun, pada tahun 1994 perkumpulan penggemar roman tahun 1940-an tersebut mengadakan rapat dan memutuskan untuk melarang H.J.C Princen menggunakan nama Poncke.

Princen lahir dan tumbuh di Belanda. Dia sempat mengenyam pendidikan di Seminari dari 1939-1943. Pada tahun 1943, tentara Nazi Jerman mulai menginvasi dan menduduki Belanda. Seminari tempat dia sekolah diisolasi dan anak-anaknya dikurung di asramanya karena Belanda berada sepenuhnya dalam suasana perang. Pada tahun yang sama dia mencoba melarikan diri dan tertangkap oleh Nazi. Dia pun dikirim ke kamp konsentrasi di Vught, lalu dikirim lanjut ke penjara kota Utrecht. Di akhir 1944, sesaat setelah dia bebas dari Jerman, dia kembali ditahan oleh pemerintah - kali ini pemerintah Belanda, karena dia menolak wajib militer di tengah kondisi yang sangat kritis tersebut. Ia pun dengan paksa masuk dinas militer dan dikirim ke jajahan Belanda di timur yang berusaha untuk memerdekakan diri, yaitu Indonesia. Di negara jajahan ini ia tergabung dalam tentara kerajaan Hindia Belanda KNIL.

Namun, ketika berada di Indonesia, Princen melihat ada ketidakadilan yang dilakukan bangsanya kepada masyarkat Indonesia. Tanggal 26 September 1948, serdadu Poncke yang muak menyaksikan sikap dan berbagai kebrutalan yang dilakukan bangsanya, meninggalkan KNIL di Jakarta menyeberangi garis demarkasi dan bergabung dengan pihak lawan yakni Tentara Nasional Indonesia.

Ketika tentara negerinya menyerang Yogyakarta tahun 1949 dia telah bergabung dengan divisi Siliwangi dengan nomor pokok prajurit 251121085, kompi staf brigade infanteri 2, Grup Purwakarta. Malah ikut longmarch ke Jawa Barat dan terus aktif dalam perang gerilya. Isterinya, seorang peranakan republiken sunda dibunuh tentara Belanda dalam sebuah penyergapan dan pertempuran sengit. Tidak cuma isterinya, anaknya yang dalam kandungan ikut tewas. Poncke mendapat anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno pada tahun 1949. Pada tahun 1948 pula dia, walaupun seorang Belanda, secara langsung menerima penghargaan Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno.

Pada tahun 1956, Princen menjadi politikus populer Indonesia dan menjadi anggota parlemen nasional mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Tetapi dia pun akhirnya juga menyaksikan berbagai penyelewengan yang terjadi di dalam birokrasi saat itu. Dia juga kecewa dengan iklim politik yang semakin tidak kondusif. Dia pun keluar dari parlemen dan mulai bersikap vokal terhadap pemerintahan yang mulai otoriter saat itu dengan pihak militer yang bertindak sewenang-wenang. Princen ditahan dan dipenjara dari 1957 hingga 1958. setelah bebas pada awal tahun 1960an, dia mulai lebih terfokus aktif dalam kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan demokrasi di Indonesia dengan mendirikan Liga Demokrasi. karena aktivitasnya yang kritis tersebut peraih bintang gerilya ini akhirnya dipenjarakan pemerintah Soekarno(1962-1966).

Semenjak akhir tahun 1965, kekuasaan Partai Komunis Indonesia (yang saat itu menjadi massa utama pendukung Presiden Sukarno dan rival dari kekuatan militer), mulai merosot karena dibabat habis oleh Angkatan Darat. sehingga pamor kekuasaan Presiden Sukarno semenjak Maret 1966. Degradasi energi kekuasaan ini kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok faksi militer dukungan CIA untuk melakukan "kudeta merayap" yang mengantarkan Suharto menjadi presiden. Dan berdirilah rezim baru, Orde Baru, menggantikan rezim yang lama - Orde Lama. Princen pun menikmati kebebasan kembali setelah dipenjara selama 4 tahun.Pengalaman hidupnya dari penjara ke penjara semakin mempertebal keyakinannya untuk mendesak negara memberikan perlindungan dan penegakan HAM dengan mendirikan Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia LPHAM dan sekaligus memimpin lembaga pembela HAM pertama di Indonesia tersebut.

Poncke pernah menggegerkan Indonesia dan dunia internasional ketika Orde Baru masih balita. Tahun 1969 dia membongkar kasus pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di Purwodadi, Jawa Tengah. Rezim militer Soeharto yang mendapat dukungan blok Barat setelah menjatuhkan Sukarno, betul-betul ditempeleng oleh laporan Poncke. Laporan itu kemudian ramai lewat pemberitaan sejumlah media nasional seperti, di antaranya, Harian Kami dan Sinar Harapan. Media-media luar terutama di Belanda getol menyuarakan laporan Poncke. Mereka menjadi ganjalan Orde Baru dalam upaya diplomasi internasional untuk memperoleh dukungan lewat kerja sama pembangunan.

Sepak terjang Poncke sebagai aktivis HAM terus berlanjut dalam pembelaan dingin dan konsistennya pada kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia, termasuk pembantaian 1965-1966 dan dampak lanjutannya, serta pelanggaran-pelanggaran HAM di Aceh, Papua, dan Timor Timur.

Sungguh menarik melihat transformasi eksistensial Poncke: dari tentara prajurit tempur menjadi aktivis HAM. Satu pilihan yang pernah dia tulis ke papa dan mamanya di Belanda sebagai het moeten kiezen (keharusan memilih): “Jan Poncke harus memilih, antara suatu hidup yang pada dasarnya tidak mungkin menjadi hidup karena tidak memiliki suatu dasar apa pun, dan suatu perburuan terus-menerus ke arah jauh yang belum kukenal….”

Pembelotan Poncke dari tentara KNIL menjadi gerilyawan yang menyerang balik tentara-tentara asalnya, didasari oleh alasan kemanusiaan yang sulit disanggah: menolak penjajahan, penistaan manusia atas manusia merdeka. Diperlukan hati nurani yang luar biasa jernih dan kuat serta keberanian luar biasa bagi seorang prajurit untuk melakukan pembelotan dengan membela negara jajahan melawan negaranya sendiri yang menjadi penjajah. Itulah yang dilakukan Poncke menurut sahabatnya, mendiang Y.B. Mangunwijaya.

Lahir di atas toko cerutu di sudut Jalan Van Dijk dan Jalan Hobbema, Den Haag, pada 21 November 1925, Poncke yang awalnya berwarga negara Belanda pindah warga negara Indonesia karena aksi pembelotannya. Para penguasa tiga negara—Jerman (saat pendudukan Nazi), Belanda, dan Indonesia—pernah menjebloskannya dari penjara ke penjara, yang bila ditotal sudah belasan kali. Dua penguasa awal Indonesia, Sukarno dan Soeharto, sudah pernah memenjarakan Poncke karena sikap kritis dan pembelaannya terhadap hak asasi manusia dan demokrasi. Terakhir dipenjara pada masa Orde Baru karena dianggap terlibat dalam gerakan Malari 1974. Di negara asalnya sendiri, Poncke mendapat ancaman pembunuhan dari beberapa mantan serdadu KNIL.

Karena suara-suara kritisnya dalam penegakan demokrasi dan HAM, baik di dalam maupun di luar negeri, oleh beberapa penguasa Orde Baru, Poncke dianggap pengkhianat. Seorang bekas Ketua Komnas HAM pada masa Orde Baru malah berkata: “Sekali pengkhianat tetap pengkhianat.” Pejabat dari sebuah negara, yang oleh “pengkhianatan” Poncke, dia bela dengan segala pengorbanan, meminjam wacana penjajah Belanda dan menuding Poncke sebagai pengkhianat.

Dalam tulisan kado ulang tahun Poncke ke-70 tahun 1995 silam, mendiang Mangunwijaya menulis: “Oleh kalangan-kalangan mantan militer tentara kolonial Belanda, ia dimaki-maki sebagai desertir yang harus ditembak mati. Oleh kalangan-kalangan tertentu di Indonesia sekarang pun, ia dimaki-maki sebagai desertir yang sekali berkhianat tetap berkhianat. Sangat menarik sebenarnya sikap pararel ini.”

Poncke Princen yang eks-pelajar seminari di Weet, Belanda, adalah penyuka filsafat dan puisi. Dia bergaul akrab dan banyak berdiskusi dengan seniman-seniman Senen dan sastrawan lain, seperti Aoh Kartahadimadja, Mohammad Balfas, Chairil Anwar, Slauerhof, Du Perron dan lain-lain. Dia adalah seorang yang perasa dan mudah jatuh cinta.

Setelah diserang stroke 7 kali, akhirnya pada 22 Februari 2002, 14 tahun lalu, Haji Johannes Cornelis Princen wafat. Dia meninggal di Jakarta dalam kesederhanaan: meninggalkan sebuah rumah kontrakan, sebuah mobil Suzuki Cary, seorang istri, dan seorang anak.

Dalam satu perjalanan, Poncke pernah berkata, “Jongen (anak muda), akan sangat sulit, bahkan mungkin mustahil, kita bisa menghilangkan ketidakadilan di dunia ini. Yang bisa kita lakukan hanya menguranginya.”*





Nama Lengkap : H. Johannes Cornelis Princen
Tempat Tanggal Lahir : Den Haag, Belanda, 21 November 1925
Agama : Islam
Alamat Kantor : Jln. Kramat Asem Raya No37, Jakarta 13120
Telp/Fax. (021) 856-3389
Alamat Rumah : Jln.Arjuna III/15, Jatinegara, Jakarta Timur

Jabatan :
– Ketua Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia (Institute For Defence Of Human Rights)
– Pengacara

Pendikan :
– Sekolah Dasar (SD) 7 tahun
– Sekolah Menengah Seminari 6 tahun
– Pendidikan Tentara Perwira Intelijen sampai tahun 1952

Perjalanan Karir:
– Biro Penasehat Ekonomi Teppema dan Vargroup Groothandel voor Chemische Producten di Den Haag (1942-1943)
– Stoottroepen Regiment Brabant dan bekerja pada Bureau voor Nationale Veiligheid (1945)
– Ikut Long March dari Jateng ke Jabar bersama Batalyon Kala Hitam, kemudian bekerja di SUAD (1948-1956)
– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) (1956)
– Ketua Umum Lembaga Pembela Hak-Hak Azasi Manusia ({LPHAM) (sejak 1966)
– Pimpinan Yayasan LBH Indonesia (1970-…)
– Wartawan untuk suratkabar dan Radio Belanda di Indonesia (1969-1972)
– Pengacara (sejak 1979)- Pendengar dalam Pengkajian Pokja Petisi 50 (1988-…)
– Mendirikan Serikat Buruh Merdeka – Setia Kawan dan menjadi ketuanya (1990-…)
– Menjadi Wakil Ketua Caretaker Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) (1995)

Kegiatan Lain :
– Dijatuhi Hukuman mati di Utrecht
– Penghuni kamp konsentrasi Jerman di 7 kota Eropa
– Ditangkap sewaktu peristiwa Madiun, bebas 19 Desember 1948
– Ditahan atas peristiwa PRRI Permesta
– Ditahan atas perintah Presiden Soekarno (1962-1966)
– Ditahan akibat peristiwa Malari (1972-1976)
– Ditahan atas tuduhan menganggu sidang DPR (1978)
– Turut membela para tertuduh dalam kasusTanjung Priok (1984)
– Dipanggil Kejaksaan Agung (Kejakgung) berkaitan dengan keikutsertaannya pada konferensi tentang Timor Timur (APCET/Asia Pacific Conference on East Timor) di Kuala Lumpur, Malaysia (November 1996)

Publikasi :
– Menerbitkan buku “Riwayat Hidup di Negeri Belanda” dalam bahasa Belanda (1989) yang menimbulkan kontroversi mengenai pro dan anti Indonesia
– Menerbitkan buku “Een Kwestie van Kiezen” (Persoalan Memilih) di Belanda (1995)

Penghargaan :
– Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno (5 Oktober 1949)


Post a Comment

0 Comments