eLearning: Radikalisme Islam di Indonesia

Radikalisme dalam bahasa Arab disebut syiddah al-tanatu. Artinya keras, eksklusif, berpikiran sempit, rigid, serta memonopoli kebenaran. Muslim radikal adalah orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam, serta bersifat eksklusif dalam memandang agama-agama lainnya. Kelompok Islam radikal muncul sejak terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, menyusul kemudian Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Saat itu, Islam radikal diwakili oleh kelompok Khawarij. Berikut tulisan Drs. Sumardi, M. Pd (Pusat Bahan Ajar dan eLearning - www.mercubuana.ac.id)
 
Presiden Jokowi menengok korban radikalisme di Indonesia (Foto biro satpres)
Radikalisme dalam artian bahasa berarti paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Sementara itu radikalisme menurut pengertian lain adalah inti dari perubahan itu cenderung menggunakan kekerasan.
Radikal berarti memiliki wawasan tertentu untuk melepaskan diri dari cengkraman masa lalu. Sedangkan radikalisme adalah gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlaku dan di tandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermuduhan dengan kaum yang mempunyai hak-hak istimewa dan yang berkuasa.

Sementara Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik. Namun banyak orang yang menyalah artikan dari radikalisme sendiri, banyak yang memahami agama Islam dalam pandangan yang keras dalam menyakini, memahami dan melaksanakan ajaran agama Islam, dalam hal politik, islam garis keras, islam yang berwatak ideologi yang keras, islam yang serba kewahyuan dan yang lainnya.

Gerakan Radikal Positif (Prinsip-Prinsip Gerakan Tajdid dan Islah).
  1. Menyerukan dan mengajarkan kepada umat islam untuk memahami ajaran agamanya dengan pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman rasulullah SAW dan para sahabat beliau terdapat Al-Quran dan Al- hadis.
  1. Mengoreksi segenap pemahaman dan pengalaman kita terhadap agama ini agar dibersihkan dari polusi syirik dan bid’ah.
  2. Membangun mental ketaatan kepada penguasa muslim dalam segala perkara yang baik dan berlepas diri dari kejelekan yang dilakukan oleh penguasa tersebut.
  3. Mencegah adanya sikap memberontak kepada penguasa muslim dalam menyalurkan rasa ketidakpuasan terhadap berbagai kebobrokan penguasa muslim.
  4. Menasehati penguasa muslim dengan nasehat yang tidak menimbulkan pemahaman terhadap masyarakat bahwa nasehat tersebut sebagai sikap pemberontak kepada penguasa yang di nasehati.
  5. Mencegah kemungkaran dengan syarat tidak mengandung resiko munculnya kemungkaran yang lebih besar daripadanya.
  6. Mengikhlaskan segala bentuk perjuangan tersebut hanya untuk mencapai keridhoan Allah Ta’alla dan tidak mempunyai tujuan sampingan atau susulan apapun.
  7. Sabar berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang tidak bergeser sedikitpun daripadanya dalam keadaan bagaimanapun dan dengan alasan apapun.
  8. Merujuk kepada kepemimpinan ulama Ahlul Hadis dalam memutuskan perkara-perkara besar atau prinsiple dan tunduk patuh kepada keputusan para ulama tersebut dalam keadaan suka ataupun tidak suka.
  9. Menjaga kesatuan dan persatuan umat islam diatas bimbingan Al-Qur’an dan As-sunnah serta menghindari perkara-perkara yang akan menjadi sebab perpecahan umat islam selama tidak menyimpang dari keduanya.
Yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Sementara Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik.

Dawinsha mengemukakan defenisi radikalisme menyamakannya dengan teroris.Tapi ia sendiri memakai radikalisme dengan membedakan antara keduanya. Radikalisme adalah kebijakan dan terorisme bagian dari kebijakan radikal tersebut. Defenisi Dawinsha lebih nyata bahwa radiklisme itu mengandung sikap jiwa yang membawa kepada tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah tatanan kemapanan dan menggantinya dengan gagasan baru.

Makna yang terakhir ini, radikalisme adalah sebagai pemahaman negatif dan bahkan bisa menjadi berbahaya sebagai ekstrim kiri atau kanan. Radikalisme adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai oleh empat hal.Pertama, sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.Kedua, sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan  kekerasan untuk mencapai tujuan. Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang tertutup dan tekstual.

Kaum radikal selau merasa kelompok yang paling memahami ajaran Tuhan. Karena itu, mereka suka mengkafirkan orang lain atau menganggap orang lain sesat.
Dilihat dari sejarahnya, radikalisme terdiri dari dua wujud:
1) Radikalisme dalam pikiran (yang sering juga disebut sebagai fundamentalisme).
2) Radikalisme dalam tindakan (terorisme).

Apa yang biasanya disebut sebagai kebangkitan Islam di Indonesia adalah hadirnya gejala-gejala keagamaan yang muncul secara dominan sejak tahun 1980-an ditandai oleh menguatnya kecenderungan orang-orang Islam untuk kembali kepada agama mereka dengan mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kecenderungan ini bisa dikatakan baru karena hal itu tidak muncul di tahun 1960-an sehingga kebangkitan Islam baru muncul di awal tahun 1980-an.

Bangkitnya Islam di Indonesia di antaranya telah terdorong oleh faktor-faktor tertentu yang berasal dari dalam Islam sendiri atau dari luar islam. Beberapa gerakan menyatakan secara tegas aspek-aspek politik yang ingin mereka kejar. Sebagian lainnya berusaha untuk menegaskan kembali praktik-praktik keagamaan mereka dari pada mengejar politik.

Bisa disimpulkan bahwa gerakan Islam dalam masyarakat Indonesia kontemporer sekarang ini ditandai oleh beberapa upaya.
  • Menemukan bentuk pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam yang perlu untuk dirumuskan dan disodorkan sebagai alternatif terhadap sistem yang berlaku sekarang.
  • Menerapkan ajaran Islam secara praktis tidak hanya sebagai konsep-konsep yang abstrak.
  • Menyingkatkan keberagaman masyarakat
  • Kelemahan islam dalam politik dan berlengsernya masa orde baru telah menyebabkan umat islam frustasi sehingga menjadi mayoritas yang diam. Karena islam dalam politik tahun 1980an telah sampai kepada jalan buntu, beberapa intelektual Islam telah mengajukan jalan lain dengan membawa Islam ke jalan lain selain politik.
  • Melakukan purifikasi keagamaan. Ada dugaan bahwa Islam telah terdistorsi karena Islam telah dipahami secara parsial.

Lima faktor di atas telah memunculkan situasi sosial politik dan kultural yang mengelilingi masyarakat Islam di Indonesia telah mendorong lahirnya gerakan-gerakan keagamaan ini. Jadi, gerakan-gerakan ini adalah sebagai respon terhadap situasi di sekeliling mereka. Respon-respon ini dalam kenyataannya telah diekspresikan dalam bentuk yang beragam, tergantung pada interpretasi yang berpijak dari pemahaman mereka terhadap ideal-ideal ajaran yang ada yang dilakukan oleh para eksponen gerakan itu.Karena itu beberapa gerakan keagamaan ini bisa dibedakan ke dalam beberapa kategori.
  1. Bisa dikategorikan radikal dan berusaha untuk merubah atau mengkonfontir status quo yang bukan saja dianggap tidak sesuai dengan Islam bahkan dianggap menyimpang dari Islam. Gerakan ini secara politik cukup menantang pemerintah yang ada karena mereka juga menyediakan ide-ide tentang negara Islam yang berarti akan mengganti pemerintahan sekuler yang ada dengan pemerintahan Islam.
  2. Gerakan-gerakan yang menekankan pemahaman Islam melalui pengajaran. Kelompok ini berkarakter reformis karena mereka tidak hanya menampilkan dirinya sebagai penganut Islam yang lebih sadar tetapi juga berusaha mengembangkan pemahaman baru tentang Islam. Gerakan ini mengambil bentuk reformasi dan purifikasi sebagai titik tolak mereka. Gerakan ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang terbaik mengenai Islam dan berupaya membentuk pribadi muslim yang baik. Kelompok ini seperti halnya kelompok radikal Islam biasa disebut sebagai kelompok sempalan, karena mereka menyimpang dari tatanan status quo yang ada. Mereka juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk mentransfer ide-ide mereka secara lebih mudah.
  3. Yang bisa dimasukkan ke dalam gerakan Islam kontemporer adalah gerakan keagamaan yang dilakukan mahasiswa di beberapa kampus di Indonesia. Kelompok ini seperti halnya kelompok kedua, tapi kelompok ini juga mempunyai kepentingan politik, dalam arti bahwa mereka tidak menganggap Islam sebagai suatu isu politik atau mereka terlibat dalam kegiatan politik dengan maksud-maksud religius.

Sejarah Radikalisme.
Munculnya isu-isu politis mengenai radikalisme Islam merupakan tantangan baru bagi umat Islam untuk menjawabnya. Isu radikalisme Islam ini sebenarnya sudah lama mencuat di permukaan wacana internasional. Radikalisme Islam sebagai fenomena historis-sosiologis merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam wacana politik dan peradaban global akibat kekuatan media yang memiliki potensi besar dalam menciptakan persepsi masyarakat dunia. Banyak label label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Serikat untuk menyebut gerakan Islam radikal, dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, Islam kanan, fundamentalisme sampai terrorisme. Bahkan di negara-negara Barat pasca hancurnya ideology komunisme (pasca perang dingin) memandang Islam sebagai sebuah gerakan dari peradaban yang menakutkan. Tidak ada gejolak politik yang lebih ditakuti melebihi bangkitnya gerakan Islam yang diberinya label sebagai radikalisme Islam. Tuduhan-tudujan dan propaganda Barat atas Islam sebagai agama yang menopang gerakan radikalisme telah menjadi retorika internasional.
 
Label radikalisme bagi gerakan Islam yang menentang Barat dan sekutu-sekutunya dengan sengaja dijadikan komoditi politik. Gerakan perlawanan rakyat Palestina, Revolusi Islam Iran, Partai FIS Al-Jazair, perilaku anti-AS yang dipertunjukkan Mu’ammar Ghadafi ataupun Saddam Hussein, gerakan Islam di Mindanao Selatan, gerakan masyarakat Muslim Sudan yang anti-AS, merebaknya solidaritas Muslim Indonesia terhadap saudara-saudara yang tertindas dan sebagainya, adalah fenomena yang dijadikan media Barat dalam mengkapanyekan label radikalisme Islam.Tetapi memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan sejarahnya terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang menggunakan jalan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan paham keagamaannya secara kaku yang dalam bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam.
 
Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Ahmad Bagja, radikalisme muncul karena ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat. Kondisi tersebut bisa saja disebabkan oleh negara maupun kelompok lain yang berbeda paham, juga keyakinan. Pihak yang merasa diperlakukan secara tidak adil, lalu melakukan perlawanan.
 
Radikalisme tak jarang menjadi pilihan bagi sebagian kalangan umat Islam untuk merespons sebuah keadaan. Bagi mereka, radikalisme merupakan sebuah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Namun sebagian kalangan lainnya, menentang radikalisme dalam bentuk apapun. Sebab mereka meyakini radikalisme justru tak menyelesaikan apapun. Bahkan akan melahirkan masalah lain yang memiliki dampak berkepanjangan. Lebih jauh lagi, radikalisme justru akan menjadikan citra Islam sebagai agama yang tidak toleran dan sarat kekerasan.
 
Cendekiawan Muslim, Nazaruddin Umar, mengatakan radikalisme sebenarnya tak ada dalam sejarah Islam. Sebab selama ini Islam tak menggunakan radikalisme untuk berinteraksi dengan dunia lain. ‘’Dalam sejarahnya, Nabi selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap lemah lembut,’’ tegasnya.
 
Menurut Nazaruddin, bahwa penyebaran ajaran Islam yang diemban oleh Nabi Muhammad dilakukan dengan cara yang santun dan lemah lembut. Nabi mengajarkan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain meski mereka adalah orang yang memiliki keyakinan yang berbeda. Nazaruddin menambahkan bahwa ajaran Islam yang masuk ke Indonesia juga dibawa dengan cara yang sangat damai. Pun penyebaran Islam yang terjadi di Negara lainnya. Ini sangat berbeda dengan negara-negara lain, terutama imperialis.

Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Gerakan Radikalisme
Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-faktor itu adalah :

Pertama, faktor-faktor sosial-politik.
Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik. Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi.
 
Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya. Tentu saja hal yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya terjadi banyak Islam dan Wacana penyimpangan dan ketimpangan sosial yang merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh sentimen dan emosi keagamaan.

Kedua, faktor emosi keagamaan.
Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan  sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.

Ketiga, faktor kultural.
Budaya juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme.Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggab sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi seluruh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.

Keempat, faktor ideologis anti westernisme.

Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam mengapplikasikan syari’at Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syarri’at Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.

Kelima, faktor kebijakan pemerintah. 
Ketidakmampuan pemerintahan di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah di negeri-negeri Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat. Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis sehingga sebagian “ekstrim” yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas Muslim.

Radikalisme dalam perspektif fiqih
Diantara keistimewaan fiqih Islam – yang kita katakan sebagai hukum-hukum syari’at yang mengatur perbuatan dan perkataan mukallaf – memiliki keterikatan yang kuat dengan keimanan terhadap Allah dan rukun-rukun aqidah Islam yang lain. Terutama Aqidah yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir.
 
Yang demikian Itu dikarenakan keimanan kepada Allah-lah yang dapat menjadikan seorang muslim berpegang teguh dengan hukum-hukum agama, dan terkendali untuk menerapkannya sebagai bentuk ketaatan dan kerelaan. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Allah tidak merasa terikat dengan shalat maupun puasa dan tidak memperhatikan apakah perbuatannya termasuk yang halal atau haram. Maka berpegang teguh dengan hukum-hukum syari’at tidak lain merupakan bagian dari keimanan terhadap Dzat yang menurunkan dan mensyari’atkannya terhadap para hambaNya.
 
Kekerasan dalam bentuk perang bukan dimulai oleh umat Islam sendiri. Begitu pula dalam sejarah perjungan nabi Muhammad SAW, perang badar, uhud, dan lainnya bukanlah umat Islam yang mengundang kaum kafir, akan tetapi sebaliknya. Umat Islam justru diperintahkan untuk tetap berbuat baik kepada siapa pun, termasuk kepada non-muslim yang dapat hidup rukun. Mengenai hal ini, Allah juga berfirman dalam surah Al Mumtahanah ayat 8 dan 9 ”Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari kampung-kampungmu sebab Allah senang kepada orang-orang yang adil. Allah hanya melarang kamu bersahabat dengan orang-orang yang memerangi kamu dalam agama dan mengusir kamu dari kampung-kampungmu dan saling bantu-membantu untuk mengusir kamu, barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.

Ayat-ayat Al Qur’an yang mengajarkan Rahmatan Lil ‘Alamin.
Pada dasarnya Al_Qur'an itu diturunkan sbg pedoman hidup manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.perdamaian itu masuk kedalam kategori kebaikan,jadi sudah jelas Al-Qur'an akan mengajarkarkan kebaikan dan melarang perbuatan yang buruk. “Rahmah” itu sebuah kata yang berasal dari bahasa arab yang maknanya ialah kelembutan, pengampunan dan kasih sayang. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata “rahmat” maknanya ialah kurnia, kebajikan, dan belas kasih.
Allah SWT berfirman:
]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ[
“Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (TQS. AL Anbiya 107).
 
Dengan pengertian rahmah yang demikian inilah kita akan memahami pembuktian secara ilmiah bahwa Islam adalah agama rahmah dalam konsepnya maupun contoh teladan pengamalannya. Dalam prinsip dasarnya maupun dalam prinsip-prinsip kehidupan yang dibangun di atas dasar prinsip tersebut. Berikut ini adalah rincian keterangan bahwa Islam adalah agama rahmah.
1).  Konsep ketuhanan yang diperkenalkan oleh Islam adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan sifat rahmat pada-Nya termasuk sifat-sifat pokok yang meliputi segenap sifat-sifat-Nya yang lainnya. Allah Ta`ala menegaskan dalam firman-Nya:
“Allah mengatakan: Adzabku ditimpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku tuntunkan Ia untuk orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat dan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A'raf: 156)
2).  Nabi yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama-Nya adalah Nabi pembawa rahmat. Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya:
(ayat) “Dan tidak Kami utus engkau kecuali sebagai rahmat bagi segenap makhluk di bumi.” (QS. Al-Anbiya': 107)
3).  Al-Qur'an sebagai kitab suci yang Allah turunkan juga sebagai rahmat bagi segenap makhluk-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:
“Dan kitab ini Kami turunkan dengan diberkahi padanya, maka ikutilah ia dan bertakwalah kamu kepada-Nya. Semoga dengan itu kalian dirahmati oleh-Nya. Agar kamu jangan mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja (yakni Yahudi dan Nashara) sebelum kami (yakni sebelum kaum Musyrikin Makkah). Dan sesungguhnya Kami tidak memperhatikan ayat yang mereka baca (yakni kaum musyrikin makkah beralasan bahwa kitab Allah itu hanya diturunkan pada orang-orang yahudi dan Nashara dalam bahasa Ibrani dan Suryani, sehingga orang Arab tidak bisa membaca dan memahaminya. Maka agar mereka tidak beralasan demikian, Allah turunkan Al-Qur'an). Atau agar kamu (wahai musyrikin Arab) tidak mengatakan: Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat (yaitu Al-Qur'an ini). Maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk disebabkan mereka selalu berpaling.” 
(QS. Al-An`am: 155 – 157)
4). Umat Islam dengan agama ini dibimbing oleh Allah Ta`ala untuk menjadi umat yang adil terhadap kesalahan yang ada pada dirinya, pada umatnya maupun pada umat yang lainnya. Allah menegaskan: “Demikianlah Kami menjadikan kalian sebagai umat yang adil agar kalian menjadi saksi yang adil terhadap sekalian manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Allah Ta`ala menuntunkan pula tentang keharusan berbuat adil walau pun terhadap musuh: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang menegakkan persaksian dengan adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kamu kepada suatu kaum menyebabkan kamu tidak berbuat adil. Berbuat adillah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah itu maha mengerti segenap apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Maidah: 8)
5). Umat Islam juga dibimbing oleh Allah Ta`ala untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang-orang kafir yang tidak sedang memerangi umat Islam karena alasan agama. Allah Ta`ala berfirman: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berbuat adil terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian dalam perkara agama dan tidak mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat adil. Hanyalah Allah melarang kalian bercinta dengan orang-orang kafir yang memerangi kalian karena alasan agama dan mengusir kalian dari negeri-negeri kalian serta membantu orang-orang yang berloyalitas dengan orang-orang kafir. Yang demikian itu, maka sungguh dia adalah orang-orang yang dhalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8 – 9).
6). Perang dalam Islam disyariatkan antara lain dalam rangka pembelaan terhadap orang-orang yang lemah yang tidak mampu membela dirinya dari kedhaliman orang-orang yang dhalim. Allah Ta`ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah, padahal orang-orang lemah yang tertindas dari kalangan pria, wanita dan anak-anak selalu berdoa dan merintih kepada Allah dengan menyatakan: wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dan negeri yang penduduknya dhalim ini dan jadikanlah bagi kami dari sisi-Mu pembela dan jadikan pula bagi kami dari sisi-Mu penolong.” (QS. An-Nisa: 75)
7).  Islam selalu mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk sangat mengutamakan stabilitas politik dan keamanan. Karena Islam sebagai agama rahmah tidak menghendaki tertumpahnya darah rakyat Muslimin dan darah kafir dzimmi karena fitnah politik dan gangguan keamanan. Untuk ini, Allah Ta`ala mengajarkan beberapa prinsip politik dan keamanan guna mencapai stabilitas pada keduanya. Prinsip-prinsip itu ialah: a). Mentaati penguasa / pemerintah dalam perkara yang ma`ruf (baik) dan berlepas diri daripadanya dalam perkara yang munkar (jelek / jahat). Allah Ta`ala menyatakan hal ini dalam firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah kalian. Maka bila kalian bertikai tentang suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah (yakni kepada kitab-Nya) dan kepada Rasul-Nya. (QS. An-Nisa: 59)
8). Islam juga memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk menjalankan misi menyerukan manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari kemunkaran. Tetapi bila mencegah kemunkaran itu menimbulkan kemunkaran yang lebih besar, maka mencegah kemunkaran yang beresiko demikian harus ditinggalkan. Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menerangkan: “Mengingkari / mencegah kemungkaran itu ada empat tingkatan yaitu:
Pertama : Menyingkirkan kemunkaran dan digantikan dengan lawannya (yaitu kemakrufan). Kedua : Menyingkirkan kemunkaran dengan menguranginya, walau pun tidak menghapuskan secara keseluruhan. Ketiga : Menyingkirkan kemunkaran, tetapi kemudian muncul kemunkaran yang serupa itu. Keempat: Menyingkirkan kemunkaran tetapi kemudian muncul kemunkaran yang lebih jahat daripadanya.
Maka tingkatan pertama dan kedua adalah nahi munkar yang disyariatkan. Dan tingkatan ketiga dalam nahi munkar ini masih dalam perbincangan ijtihad para ulama. Sedangkan tingkat keempat dari nahi munkar adalah bentuk yang diharamkan.”
 
            Demikianlah prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmah bagi kaum Muslimin sendiri maupun bagi seluruh umat manusia. Islam sangat membenci aksi kezhaliman apa pun bentuknya. Karena Islam senantiasa mengajarkan dan memerintahkan kepada umatnya untuk menjunjung tinggi kedamaian, persahabatan, dan kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin). Bahkan al-Qur’an menyatakan, bahwa orang yang melakukan aksi kezhaliman termasuk golongan orang yang merugi dalam kehidupannya. Di dunia akan di cap sebagai pelaku kejahatan dan di akhirat kelak akan dimasukkan ke dalam api neraka Jahannam. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Kahfi [18]: 103-106, “ Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
 
           
Ayat-ayat Al Hadits yang mengajarkan Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam agama Islam ada pemahaman amar ma’ruf nahi mungkar. konsep amar ma’ruf nahi munkar juga bisa mendatangkan pemahaman keliru sehingga mengidentikkannya dengan kekerasan. Hadis yang terkenal mengenai nahi munkar adalah “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran maka tegahlah dengan tangan, kalau ia tidak sanggup (berbuat demikian), maka hendaklah ia mengubah dengan lisannya, dan kalau tidak sanggup (pula), maka hendaklah ia melakukan dengan hatinya (mendo’akan), yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (H.R. Ahad bin Hanbal, Muslim dan Ashab as-Sunan (para ahli hadis penyusun kitab hadis Sunan).
 
Jika hadis ini dipahami secara tekstual, maka cara nahi mungkar yang utama adalah dengan cara kekerasan, yaitu dengan tangan. Tetapi tidak semua hadis, termasuk ayat, dapat dipahami secara tekstual. Adakalanya yang tertulis mesti dipahami secara kontekstual. Mencegah dengan tangan tersebut bukanlah dimaknai dengan kekerasan, tetapi dengan kekuasaan. Artinya kita harus mencegah kemungkaran dengan kekuasaan yang kita miliki, seorang pemimpin harus mencegah bawahannya dari perilaku kemungkaran, sebab dia berkuasa atas bawahannya; orang tua harus mencegah anaknya dari kemungkaran, sebab orang tua juga berkuasa atas anaknya; seorang suami juga mesti mencegah istrinya berbuat kemungkaran sebab suami berkuasa atas istrinya; begitu seterusnya.

Solusi memberantas radialisme dan terorisme.
Pihak pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga negara perlu mensosialisasikan dan memberikan penjelasan yang benar terhadap masyarakat luas di berbagai kesempatan tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Sosialisasi ini dapat berupa forum dialog, diskusi, seminar, atau workshop tentang bahaya radikalisme dan terorisme seperti yang dilakukan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) yang bekerjasama dengan Interfaith Cooperation Forum (ICF), Pusat Studi Pesantren, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Urbanista Organization, YMCA Metro Jakarta, dan Initiatives of Change (IoC) menyelenggarakan Workshop Pemuda (Youth Workshop) Desember, 2009 di Kota Bogor. Tema acara adalah Youth’s Strong Participation in Encountering Radicalism, Extremism, and Terrorism. Pesertanya dari kalangan pelajar SMA, santri pondok pesantren, dan aktivis NGOs di beberapa daerah. Workshop ini sengaja membidik segmen pelajar, santri, dan aktivis NGOs karena memandang mereka sebagai generasi muda yang paling efektif melakukan gerakan-gerakan kepemudaan di sekolah dan institusi masing-masing.  Tujuan workshop adalah untuk melakukan counter terhadap radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme yang marak belakangan ini.

Memberikan pemahaman agama yang benar terutama tentang makna jihad. Tokoh-tokoh agama dan masyarakat diharapkan dapat memberikan penjelasan dan pemahaman yang benar di berbagai forum tentang makna jihad yang benar sehingga tidak disalahtafsirkan dalam tindakan radikalisme dan terorisme karena hal ini sering kali terjadi berawal  dari salah tafsir terhadap pengertian jihad yang sebenarnya terutama banyak dilakukan oleh kalangan muda yang lemah dan dangkal pemahaman agamanya. Dari sinilah, tokoh agama dan masyarakat bisa menjelaskan prinsip-prinsip jihad yang benar. Mereka harus memberikan pengertian bahwa jihad bukan berarti harus melakukan pengeboman dan pembunuhan secara membabi buta walaupun kepada non muslim tetapi jihad yang sebenarnya adalah bertahan dan menghalau serangan musuh yang menyerang terlebih dahulu.

Disamping itu, masyarakat terutama orang tua harus mengawasi pendidikan dan pergaulan anak-anaknya dari pengaruh-pengaruh ajaran dan aliran-aliran agama yang sesat dan menyimpang. Orang tua hendaknya selalu mengontrol secara ketat terhadap pergaulannya dan memberikan pemahaman yang baik dan benar sejak masih kecil sehingga anak tidak mudah terpengaruh dengan aliran-aliran agama tersebut dan sudah mempunyai benteng dan filter yang kuat dari berbagai pengaruh yang negatif. 

Pemerintah juga harus dapat menutup ruang gerak para teroris dan membendung akses mereka dari dalam maupun luar Indonesia. Pihak aparat dibantu masyarakat harus bergerak cepat dalam menutup pergerakan mereka misalnya memantau dan membubarkan tempat-tempat yang disinyalir dijadikan markas kegiatan terorisme. Masyarakat juga harus tanggap dan proaktif bila melihat gelagat yang mencurigakan tentang aktivitas yang menjurus tindakan terorisme. Banyak cara yang dapat ditempuh dalam mempersempit ruang gerak mereka seperti menutup situs-situs di internet yang mempropaganda gerakan mereka. Pemerintah juga dapat memperketat pengawasan dan penjagaan di tempat-tempat pintu masuk yang dapat dijadikan akses para terorisme seperti di bandara, hotel, stasiun maupun fasilitas-fasilitas yang mudah dilalui. Cara lain yang dilakukan pemerintah adalah dengan memblokir aliran-aliran dana dari bank-bank yang dicurigai untuk membiayai kegiatan terorisme dan melacak asal dana tersebut.

Menjalin kerja sama dan kordinasi. Untuk memberantas radikalisme dan terorisme perlu ada kerja sama yang erat antara polisi, TNI, dan segenap masyarakat. Penanganan terorisme menjadi tanggung jawab sepenuhnya Polri, sementara TNI AD hanya membantu (memback up). Kerjasama yang dilakukan pihak TNI AD dan Polri berupa saling tukar-menukar informasi serta melakukan diteksi dan cegah dini terhadap kegiatan-kegiatan terorisme. Tentunya Polri, TNI dan masyarakat harus aktif dan melibatkan diri dalam penanganan ini. Masyarakat harus memberikan informasi yang akurat dan mau bekerja sama dengan aparat yang berwenang bila melihat kegiatan-kegiatan yang mengarah pada tindakan terorisme. Masyarakat sebagai pelapor dan polisi menindaklanjuti laporan tersebut sesuai dengan fakta yang ada di lapangan dengan memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing secara jelas dan transparan. Seperti penggerebekan anggota terorisme di beberapa daerah selama ini berawal dari informasi dan laporan masyarakat yang ditindaklanjuti oleh polisi dengan densus 88-nya sehingga berhasil menggagalkan serangan mereka. Ini berarti sudah ada kerja sama antara masyarakat dan aparat. Bila perlu, pemerintah memberi penghargaan  dan imbalan yang menarik kepada masyarakat yang dapat memberikan informasi pelaku dan kegiatan terorisme di suatu tempat sehingga masyarakat lebih bersemangat untuk bekerja sama dengan aparat yang menanganinya.

Pemerintah hendaknya miliki peran tersendiri dalam melakukan deradikalisasi dengan melakukan pemberdayaan potensi para anggota terorisme sehingga mereka mau mengakui kesalahannya dan kembali berbaur dengan masyarakat hidup normal seperti biasa. Mereka juga manusia yang bisa salah menentukan pilihan hidupnya. Dari sini, pemerintah dituntut kearifannya untuk membimbing mereka dengan cara yang lemah lembut dan persuasif sehingga rasa permusuhan dan kebencian dari kelompok mereka menjadi rasa persahabatan dan persaudaraan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberdayaan dan pengembangan potensi mereka  sebagaimana yang dilakukan oleh KH. Elon Syudja’i yang dengan pesantrennya mau membantu kalangan radikal saat itu untuk meninjau kembali sikap radikalnya dan kembali berbaur untuk membangun masyarakat, dengan pesantren sebagai pusatnya. Program ini baru dilembagakan dalam sebuah organisasi non struktural : ICDW (Indonesian Center for Deradicalisation and Wisdom) pada November 2009. Berbagai kegiatan yang diprogramkan diantaranya memberi mereka pekerjaan dan ketrampilan hidup yang layak bagi mereka.      

Daftar Pustaka:
Adian Husaini. (28 November 2005). Radikalisme dan Terorisme. Majalah Hidayatullah
KH. Amin Ma’ruf. ( 20 Maret 2010). Paham Menyimpang Di Indonesia Serta Kaitannya Dengan Masalah Pendekatan Dan Pemikiran Umat Di Rantau Ini,  (Makalah ini disampaikan dalam Konvensi Pengukuhan Aliran Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) Sebagai Arus Perdana di Negeri Selangor, di Selangor Malaysia, pada tanggal 20 Maret 2010)
Imam Mustofa. (27 Mei 2010). Isu Terorisme dan Ponpes. Koran Radar lampung
Imam Mustofa. (5 Mei 2009). Terorisme, Fundamentalisme Dan Dialog Antarperadaban.  Artikel di mushthava.blogspot.com
Munwir Haris Irfani, Msi. (01 Apr 2010). Merekonstruksi Fundamentalisme Agama. Harian Pelita

Previous Post Next Post