Kalau aku anteknya orang China kenapa?

Usai menulis status facebook soal penolakanku terhadap politisasi agama, ada tanggapan sinis masuk. Kemudian, ada yang melontarkan tuduhan rasis bahwa aku ini disebut sebagai anteknya orang China (selanjutnya kusebut Tionghoa).

Aku hanya geleng-geleng kepala saja ketika menghadapi tuduhan itu. Lalu aku jadi bertanya-tanya; kira-kira orang yang melontarkan tuduhan seperti itu orangnya berpendidikan apa ya? Apakah dia berpendidikan tinggi tapi tidak cerdas? Mungkinkah dia orang super religius? Mungkinkah dia orang yang terlalu cerdas tanpa menempuh pendidikan sama sekali?

Kalau dilihat dari gayanya berkata-kata, tampaknya dia tak menunjukkan sebagai orang berpendidikan kuat. Kalau orang berpendidikan dan berpikiran cerdas, pasti akan mengajak diskusi rasional dan tak emosional seperti itu. Kalau dilihat dari muatan tuduhannya yang rasis itu, kupikir dia juga tak  tergolong orang religius. Setahuku, karakter orang yang benar-benar religius itu umumnya memiliki kerendahan hati, kata-katanya pasti menjaga etika. Kalau melihat gayanya berkata-kata, boleh jadi dia hanya orang yang berpikiran sempit dan jangan-jangan malah kurang memahami ajaran yang dianutnya sendiri.

Akhirnya, aku hanya memanjatkan doa saja untuknya: Semoga orang yang melontarkan tuduhan ngawur padaku itu segera dibukakan hatinya dan dilapangkan pikirannya. Aku tak perlu membalasnya dengan melontarkan kata-kata sinis atau balik melontarkan tuduhan ngawur.
Tapi harus akui bahwa tuduhannya padaku (sebagai anteknya orang Tionghoa) malah membuatku sering tertawa sendiri.

Kenapa tertawa? Dalam pemahamanku, kata antek berarti karyawan, kaki tangan, pengabdi dll. Aku juga harus akui bahwa aku ini hanya kecil. Artinya, aku memang tak mampu untuk menjadi bos. Karena tak bisa menjadi bos, maka aku harus bekerja atau mengabdi untuk mencari upah bagi menghidupi keluarga. Untuk itu, mau tak mau aku harus bersedia menjadi antek bagi orang-orang yang bersedia menjadi bosku.

Nah pertanyaan yang muncul kemudia adalah; Kalau toh aku benar jadi anteknya orang Tionghoa, apakah hal itu termasuk perbuatan dosa atau melanggar ajaran agama? Aku memang tak mempelajari agama secara mendalam secara khusus dalam lembaga pendidikan formil keagamaan. Tapi setahuku, dalam ajaran agama apapun, tak ada larangan untuk bergaul atau bekerjasama dengan orang Tionghoa.

Tapi kalau ada yang nekat berpandangan bahwa menjadi anteknya orang Tionghoa adalah perbuatan dosa, maka aku jadi bertanya-tanya lagi: kenapa sih Tuhan menciptakan manusia beraneka macam? Hmm.. aku malah seperti menjadi bodoh kembali. Aku tidak merasa menjadi orang cerdas, tapi tuduhan itu yang membuat aku menjadi bertanya-tanya dengan pertanyaan masa kuliah lalu: Apa sih tujuan Tuhan menciptakan manusia berkulit hitam, manusia berkulit sawo matang (Melayu), berkulit kuning (Tionghoa), berkulit bule? Ada yang bisa bantu jawab; kenapa Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam kulit?

Pertanyaan semacam itu sebenarnya sudah menjadi bahan diskusiku pada masa kuliah dulu saat ngobrol dengan teman mahasiswa dari Dayak, Sasak, Papua, Gunung Kidul dll. Namun, setelah melihat dinamika politik dewasa ini, aku seperti diajak untuk berpikir mundur lagi. Masifnya politisasi agama dewasa ini, menurutku, kurang baik bagi bangsa ini. Hal itu kurang mendidik para generasi muda dalam menjaga kebangsaan atau kesatuan NKRI yang sangat beragam suku budaya ini.

Kenapa kurang baik? Karena perbedaan pendapat yang dimunculkan banyak yang tak rasional, cenderung emosional, bahkan ada unsur kebencian SARA yang sering dilontarkan di media sosial. Salah satunya berbentuk tuduhan rasis yang dilontarkan padaku (yang disebutnya sebagai anteknya orang Tionghoa). Menurutku, kalau kita masih ngotot cari menangnya sendiri saat memperdebatkan agama dalam urusan pengelolaan negara, hal itu termasuk langkah mundur. Sebab, masalah ini sudah saya anggap selesai ketika para pendahulu berhasil melahirkan bangsa Indonesia melalui spirit persatuan Sumpah Pemuda 1928 maupun Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Sungguh memperihatinkan jika kita masih sibuk memperdebatkan suku, ras dan agama dalam pengelolaan negara, sementara negara lain sibuk melakukan pembangunan nyata. Coba tengok kondisi bangsa kita sekarang ini; Sumber dayanya sangat besar, tapi daya saingnya lebih lemah jika dibanding dengan negara tetangga.

Menurtku, untuk membangun negera, perlu pemimpin yang berkompetensi kuat dalam pengelolaan negara (tak perlu memandang apa sukunya dan apa gamanya). Jepang bisa maju karena punya pemimpin berintegritas dan berkompetensi baik dalam pengelolaan negara. Karena itu, Jepang mampu mengintegrasikan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam pembangunan ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan. Indonesia harusnya juga demikian agar sumber daya alam yang melimpah ini dapat diolah bangsa sendiri dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat.

Tapi, kontestasi yang aku lihat selama Pilkada 2017 ini, sungguh memprihatinkan.
Perdebatnnya tidak mengarah pada kemampuan para calon dan apa programnya, tapi lebih banyak menjurus pada isu-isu SARA. Yang menyedihkan, ketika aku menyampaikan penolakan terhadap politisasi agama (SARA), eh malah dituduh sebagai anteknya orang Tionghoa. Untuk itu, mari kita berpikir dan bertindak lebih dewasa lagi dengan rasionalitas yang kita punya. Kalau bisa sih.. jangan berpikir mundur lagi ke era Sumpah Pemuda 1928.

Silakan saja menuduhku sebagai anteknya orang Tionghoa. Aku tak akan pernah marah atau tersinggung dituduh begitu. Kalau toh aku anteknya orang Tionghoa, toh bukan hal yang berdosa atau melanggar anjaran agama. Bekerja pada orang Tionghoa, bagiku tidak masalah. Bekerja pada orang Arab, bagiku juga tidak masalah. Yang aku tahu, sebagai orang yang beragama, aku harus mencintai siapa saja tanpa pandang bulu apa suku dan agamanya. Sebagai warga negara, aku wajib menjaga kesatuan dan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedih rasanya, kalau masih berperilaku rasis dengan warga negara sendiri. Sementara para negara tetangga sibuk bekerja, membangun ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Kalau kita masih mempersoalkan perbedaan suku, ras dan agama dalam pengelolaan negara, malah bisa dicurigai; jangan-jangan gencarnya politisasi agama dewasa ini hanya untuk menutupi kebodohan kita sendiri.

Tapi lain soalnya kalau ada yang ingin mendirikan negara agama.seperti DI/TII di masa lalu. Namun mungkinkah ada bibit-bibit neo-DI/TII yang akan bangkit di negeri ini? Aku tidak tahu hal itu. Semoga saja negeri ini tak bergerak mundur ke masa lalu, tapi harus berpikir ke masa depan. Bukan begitu?(@SutBudiharto)
Previous Post Next Post