Puisi Kebodohan di Republik Pendendam

Republik pendendam itu akan semakin bodoh dan terbelakang, 
bahkan mungkin akan hilang, 
lalu tinggal nama saja. 

Harusnya kita banyak belajar dari sejarah masa lalu, entah dari Kerajaan Singasari atau Ken Arok,
Harusnya kita juga mengeja lagi tentang kekejaman kolonialis maupun praktik devide at impera,
Tapi entah kenapa, sampai kini, masih ada saja rasa dendam yang dikobar-kobarkan, termasuk dengan isu anti PKI.
Yang tak paham pun pada ikut-ikutan mengibarkan dendam, tanpa mengerti ujung pangkalnya.
Sementara di luar sana, orang-orang pada bertepuk tangan, lalu mengeruk kekayaan alam kita seenaknya.
Mereka makin tertawa riang ketika kita lebih sibuk menebar dendam ketimbang berkarya nyata. 

Tahu-tahu ternyata kita hanya dikuburkan dengan aneka barang impor: dari mobil, lipstik hingga garam dapur.
Tahu-tahu ternyata kita semakin ketinggalan dengan negara tetangga: dari kesehatan nalar, kesejahteraan hidup hingga daya saing.
Tahu-tahu ternyata kita hanya punya dendam yang selalu dibesar-besarkan. Tahu-tahu ternyata kita hanya makin dibodohkan saja tanpa daya.
Sementara mereka tetap leluasa mengeruk kekayaan alam kita.

Harusnya kita bisa belajar pada sejarah, entah dari Empu Gandring atau muslihat para kolonialis.
Tapi entah kenapa, ternyata masih banyak yang mau dibodohi oleh warisan dendam yang selalu dikibarkan tanpa pernah tahu apa ujung pangkalnya.

Suatu saat nanti, mungkin saja, tahu-tahu negeri ini akan hilang begitu saja akibat kekenyangan dendam, lalu hanya tinggal nama di kenangan saja. 
#menyedihkan

(by: Sut Budiharto)



Previous Post Next Post