Tujuan Kita Satu Ibu

TUJUAN KITA SATU IBU 

kutundukkan kepalaku, 
bersama rakyatmu yang berkabung 
bagimu yang bertahan di hutan 
dan terbunuh di gunung 
di timur sana
di hati rakyatmu, 
tersebut namamu selalu 
di hatiku 
aku penyair mendirikan tugu 
meneruskan pekik salammu 
"a luta continua."

kutundukkan kepalaku 
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan

kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu

tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu

kita tidak sendirian 
kita satu jalan 
tujuan kita satu ibu:pembebasan!

kutundukkan kepalaku 
kepada semua kalian para korban 
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk 

kepada penindas 
tak pernah aku membungkuk 
aku selalu tegak

4 Juli 1997






Widji Thukul bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963 – hilang sejak 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun). Dikenal sebagai penyair dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.
أحدث أقدم