Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (3)

“Cinta adalah isi, dunia sekedar kulit. Lebih jauh lagi, cinta seperti manisan, dan dunia adalah pancinya”

“Marah dan nafsu membuat orang menyimpang, menyesatkan jiwa dan kebenaran. Apabila yang tampil kepentingan diri, kebajikan tersembunyi: seratus tabir terbentang antara mata dan hati”

“Kelimpahan adalah mencari para pengemis dan si miskin laksana keayuan mencari kaca cermin kedermawanan Tuhan, dan mereka yang bersama Tuhan disatukan dengan kedermawanan Mutlak”

“Setiap nabi dan setiap orang saleh punya cara sendiri, tapi semua menuju kepada Tuhan. Semua cara sebenarnya satu”

“Mulut yang lapar membalut mata terhadap dunia lain: tutuplah mulut itu dan lihatlah dengan jelas”

“Dengan apa pun kau hendak menyatukan diri, laksanakanlah, leburkanlah dirimu ke dalam kekasih, cernalah bentuk dan sifat – sifatnya. Kalau kau mengharapkan cahaya, siapkan dirimu untuk menerimanya; kalau kau mengharapkan dari Tuhan, peliharalah egoismu dan mundurlah kau. Kalau kau mengharapkan dapatkan jalan ke luar dari penjara yang hancur ini, janganlah palingkan kepalamu dari Kekasih, tapi sujudlah dalam ibadah dan dekatkan diri”

“Perhatikanlah dirimu, gemetar, ketakutan, pada kehampaan, ketahuilah bahwa kehampaan adalah juga ketakutan bahwa Tuhan mungkin mewujudkannya. Kalau kau meraih martabat duniawi itu juga dari rasa takut. Sesungguhnya, kecuali cinta Yang Maha Indah, adalah sungguh siksaan. Itulah siksa yang bergerak menuju maut dan tidak minum air kehidupan”

“Kemarahan adalah raja di atas semua raja, tapi kemarahan sekali dikekang dapat membantu”

“Malam menunda semua kegiatan siang kelemahan membangkitkan kembali pikiran. Kemudian siang menunda malam, dan kelemahan menghilang dalam cahaya. Kendati kita tidur dan istirahat dalam kegelapan mengandung air kehidupan? Maka segarkanlah diri dalam kegelapan. Bukankah sesaat berdiam diri menyimpan keindahan dalam suara? Lawan terlihat jelas melalui lawan dalam biji hati yang hitam. Tuhan menciptakan cahaya cinta yang abadi”

“JIka cermin hatimu menjadi terang dan jernih, akan tampak padamu bayangan di balik dunia ini. Kau akan melihat bayangan dan pembuat bayangan itu. Keduanya adalah hamparan permadani rohani yang luas, dan Yang Satu itu yang membentangkannya”

“Yang Indah menarik yang indah. Ketahuilah ini untuk memastikan. Bacalah nas ini, Perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik (Al Baqarah: 221). Di dunia ini segalanya menarik. Mereka yang di dalam Cahaya akan menarik yang di dalam Cahaya”

“Doa dan zikir dulu telah diberikan kepadamu, tapi doa itu membuat hatimu pongah. Kau mengira dirimu begitu dekat kepada Allah, tapi dengan cara itu banyak orang jatuh terpisah dari Allah”

“Kalau aku membuat orang menangis, karunia-Ku segera datang; dengan air mata orang akan meneguk Karunia-Ku. Kalau Aku tak ingin memberi, Aku tidak akan menunjukkannya karunia yang dia harapkan; tapi bila Kuikat hatinya dengan kesedihan; Aku akan membukanya dengan senang hati. Rahmat-Ku tergantung pada kesungguhannya dia menangis kalau dia menangis, gelombang akan melimpah dari laut kasih sayang-Ku”

“Dia ada pada orang yang wajahnya mendapat senyuman manis Sang Kekasih, apa yang merugikannya dari pandangan kecut orang lain?”

“Penyebab kepicikan adalah keanekaragaman:
- semua indra diarahkan ke segenap jurusan. Ketahuilah bahwa alam tauhid terletak di balik indera.
- kalau kalian mendambakan persatuan, berbarislah ke arah itu”

“Banyak orang tak beriman yang ingin mendekat dan mencintai Tuhan, tapi yang membuat mereka tersandung adalah kemasyuran, keangkuhan dan nafsu yang tak berkesudahan”

“Cahaya matahari menera dinding, dinding pun menerima pinjaman sinar kemegahan. Mengapa kau letakkan hatimu di atas sebidang tanah. Oh, makhluk lugu, Carilah sumber yang bersinar abadi”

“Sedikit demi sedikit Allah menghilangkan keindahan manusia; sedikit demi sedikit pohon – pohon muda menjadi layu. Pergilah, bacalah: Barang siapa kami beri umur panjang, Kami juga membuat mereka menyusut. Carilah kehidupan rohani; Jangan tempatkan hatimu di atas tulang – tulang”


Jalaluddin Rumi
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi.
Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.

Previous Post Next Post