Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (1)

Jalaluddin Rumi memiliki kegelisahan Sufistik luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya. Rumi menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian. Dan inilah kutipan karya Jalaluddin Rumi yang disarikan dari berbagai sumber.


Jalaluddin Rumi dan Agama
Jangan tanya apa agamaku.
aku bukan yahudi.
bukan zoroaster.
bukan pula islam.

karena aku tahu,
begitu suatu nama kusebut,
kau akan memberikan arti yang lain
daripada makna yang hidup di hatiku

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...

“Jadilah kekasih bagi dirimu sendiri!
Lampaui dua dunia.
Dan tinggalah di kediaman sendiri!
Pergi, jangan mabuk dengan anggur dan kecongkakan – kecongkakan itu!
Lihatlah kilauan wajah itu dan sadarlah akan dirimu sendiri”

“Perhatikanlah setiap binatang, dari serangga kecil sampai gajah,
semua mereka keluarga Tuhan dan rezeki mereka tergantung kepada-Nya.
Sungguh Tuhan Maha Pemberi rezeki!
Semua kesedihan dalam hati kita lahir dari asap
dan debu keberadaan kita dan segala nafsu yang sia-sia”

“Orang yang bijaksana melihat ucapan bagaikan orang tua. 
Ia turun dari langkit,
karena itu ia bukanlah sesuatu yang tak berharga. 
Ketika kau bicara dengan kata-kata kotor 
maka sekian banyak kata hanya bernilai satu. 
Namun bila kau bicara dengan baik 
maka satu kata akan memiliki nilai berlipat.
Ucapan akan terkuak bagi engkau yang mampu membuka dinding pembatas (hijab). 
Sehingga kau tahu bahwa sesungguhnya ia adalah sifat – sifat Tuhan Yang Maha Pencipta”

“Kembalilah kepada sejatimu, wahai hati! Karena jauh di dalam dirimu wahai hati, engkau akan menemukan jalan menuju Tuhan Yang Tercinta”

“Kami bersyukur atas cinta ini, ya Tuhan, 
cinta yang melaksanakan kemurahan tak terbatas. 
Terhadap kekurangan-kekurangan apapun 
dalam syukur kami yang mungkin membuat kami berdosa, 
cinta mencukupkan hingga pulih kembali”

“Jika kita menggali lubang untuk menjerumuskan orang ke dalamnya, 
kita sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya. 
Jangan menganyam sendiri kepompong ulat sutera 
dan jangan menggali lubang itu terlalu dalam. 
Janganlah mengira si lemah tak punya pelindung 
dan ucapkan kata-kata dari Quran, 
“kapankah pertolongan dari Allah akan datang”


Jalaluddin Rumi dan Cinta
Ketika aku jatuh cinta,
aku merasa malu terhadap semua.
Itulah yang dapat aku katakan tentang cinta.

“Dalam cinta
segalanya berubah rupa.
Orang Amerika berubah menjadi orang Turki”

“Dengan cinta, yang pahit menjadi manis, 
dengan cinta, tembaga menjadi emas, 
dengan cinta sampah menjadi jernih, 
dengan cinta yang mati menjadi hidup, 
dengan cinta yang raja menjadi budak. 
Dari ilmu cinta dapat tumbuh.
 Pernahkah kebodohan menempatkan rang di atas tahta begini?”

“Sejak kudengar tentang dunia Cinta,
kumanfaatkan hidupku,
hatiku dan mataku di jalan ini.
Aku pernah berpikir bahwa cinta dan yang dicintai itu berbeda.
Kini aku mengerti bahwa keduanya sama”

“Cinta adalah lukisan orang yang getir menjadi manis, 
sebab dasar semua cinta adalah kebajikan moral”

“Seperti Adam dan Hawa yang melahirkan sekian banyak jenis, 
Cinta lahir dalam sekian banyak bentuk. 
Lihat, dunia penuh dengan lukisan, namun ia tidak memiliki bentuk”

“Tataplah wajah cinta supaya kau mampu meraih sifat kemanusiaan. 
Karena itu jangan hanya duduk menggigil. 
Sebab jika demikian,mereka kan membuatmu menggigil”

“Pilihlah Cinta. 
Ya, Cinta! 
Tanpa manisnya Cinta, 
hidup ini adalah beban. 
Tentu engkau telah merasakannya”

“Yang menjadi sasaran cinta bukanlah bentuk-
apakah itu cinta untuk kepentingan dunia ini atau untuk akhirat”

“Bila sakit karena cinta menambah keinginanmu, 
bunga-bunga mawar dan lili mengisi taman jiwamu”

“Penyakit pecinta tidak seperti yang lain,
Cinta adalah Astrolab segala misteri Tuhan.
Baik cinta dari langit atau dari bumi sama-sama menunjuk kepada Tuhan.
 (astrolab adalah alat astronomi primitif)

“Cinta orang yang sudah mati tidak selamanya,
sebab yang sudah mati tak akan kembali. 
Tapi cinta orang yang masih hidup lebih segar daripada kuncup yang baru bersemi, 
baik bagi mata batin atau mata lahir. 
Pilihlah cinta Yang Hidup Abadi yang tak akan pernah berakhir, 
yang memberikan kita anggur yang menambah kehidupan. Jangan berkata, 
“Kami punya jalan masuk kepada Raja itu” Berhubungan dengan dermawan tidaklah sulit”

Jalaluddin Rumi dan Spiritual
“Orang makin memperhatikan dunia materi, 
dia akan makin terlena terhadap dunia rohani. 
Apabila jiwa kita sudah terlena di depan Tuhan, 
yang lain, 
yang tak terlena mendekati pintu rahmat Ilahi”

“Jika hatimu menjadi kuburan rahasia, 
hasrat hatimu akan diperoleh lebih cepat. 
Nabi berkata, bahwa barang siapa dapat menjaga rahasia dalam lubuk hatinya 
dia akan segera mencapai hasrat yang ditujunya. 
Jika benih-benih ditanam di dalam tanah, 
segala rahasia batin akan menjadi taman yang subur”

“Orang yang menghormati akan dihormati, 
orang yang membawa gula akan makan kue badam. 
Buat siapa perempuan yang baik-baik. 
Laki-laki baik-baik. 
Hormatilah temanmu atau lihat apa yang terjadi jika tidak kauhormati”

“Barangsiapa melihat sesuatu pada sebab-sebab, 
maka dia akan menjadi pemuja bentuk. 
Namun orang yang mampu menatap pada “Sebab Pertama”, 
maka dia akan menemukan cahaya yang memancarkan makna”

“Dunia manusia adalah batin yang memiliki kemegahan. 
Karena itu duhai sahabat, mungkinkah engkau menjadi bijak, 
sementara yang relatif terus saja kau jadikan pujaan?”

“Kecaman yang datang dari sahabat – sahabat dekat memang diperlukan sehingga, 
tanpa bantuan pemantul apapun, kau menjadi pengucur air dari laut.
 Ketahuilah bahwa pada mulanya kecaman adalah peniruan,
tapi bila ia terus menerus terulang, akan langsung berubah menjadi wujud kebenaran. 
Supaya itu terwujud, janganlah berpisah dari kerang jika tetesan air hujan belum lagi menjadi mutiara”

Jika hati tidak ada, 
bagaimana badan dapat bicara? 
Jika hati tidak mencari, bagaimana dapat mencari

“Tidak perlu membakar selimut baru hanya karena seekor kutu, 
juga aku tidak membuang muka dari kau hanya karena kesalahan yang tak berarti”

“Siapapun yang melihat kesalahannya sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain,
 mengapa mereka tidak mengoreksi diri sendiri? 
Manusia di dunia tidak melihat diri mereka sendiri dan yang demikian mereka akan saling menyalahkan”

“Kemurahan hati datang dari mata -bukan dari tangan- 
dialah yang melihat benda-benda itu, hanya seorang yang melihat terpelihara”

Adakalanya 
lebih baik bersama dengan orang yang kurang terhormat 
daripada tinggal seorang diri. 
Kendati gagangnya sudah rusak, 
setidaknya ia masih melekat di pintu”

“Sejauh yang dapat kaulakukan janganlah menjejakkan kaki pada perceraian. 
Allah berkata, “Dari segala yang dihalalkan, dan yang sangat Ku-benci adalah perceraian” 
(hadis Abu Dawud)

“Ya Allah, jadikanlah hati kami yang membatu ini seperti lilin, 
jadikanlah ratapan kami begitu sedap dan menjadi sasaran kasih-Mu”

“Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, 
tak dapat diragukan, mereka mempunyai persamaan. 
Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sempurna?”

“Persaudaraan adalah seperti seonggok buah anggur, 
kalau kuperas akan menjadi satu sari buah. 
Yang mentah dan yang matang adanya berlawanan, 
tapi bila yang mentah juga menjadi amtang, menjadi sahabat yang baik”

“Kekasih adalah segalanya, 
pecinta hanya sebuah tabir.
Kekasih hidup abadi, pecinta hanyalah benda mati.
Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat, 
pecinta akan ditinggalkan seperti burung yang tanpa sayap.
Bagaimana aku akan terjaga dan sadar jika tak disertai cahaya Kekasih. 
Cinta menghendaki firman ini disampaikan.
Jika kita menemukan cermi hati yang kusam karat ini tidak terhapus dari wajahnya”

“Jalan kehidupan rohani membuat badan remuk 
dan kemudian memulihkannya menjadi sehat. 
Dia menghancurkan harta berharga 
dan dengan harta itu dapat membangun lebih baik dari sebelumnya”

“Janganlah gunakan pedang kayu dalam perang.
Pergilah, cari yang dari baja,
kemudian majulah dengan gembira.
Pedang hakikat adalah pelindung seorang wali Tuhan,
saatmu bersama dia sungguh berguna
seperti piala kehidupan itu sendiri.
Semua orang arif berkata sama,
orang yang mengenal Tuhan adalah rahmat Tuhan kepada hamba -hamba Nya”


“Tanamkanlah kecintaan para kekasih Tuhan dalam semangatmu,
jangan serahkan hatimu kepada apa pun
tapi cinta mereka yang berhati gembira.
Janganlah mengunjungi tetangga yang berputus asa,
harapan masih ada.
Jangan pergi ke arah yang gelap,
karena matahari masih ada”

Jalaluddin Rumi
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi.
Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.

Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (1) Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (1) Reviewed by SUTTRISNO BUDIHARTO on February 23, 2015 Rating: 5