Bunga dan Tembok

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
 
Kami adalah bunga yang tak
 
Kau hendaki tumbuh 

Engkau lebih suka membangun
 Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
 
Kami adalah bunga yang tak
 
Kau kehendaki adanya
 
Engkau lebih suka membangun
 Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
 
Kami adalah bunga yang
 Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
 
Engkau adalah tembok itu
 
Tapi di tubuh tembok itu
 Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami

Di manapun–tirani harus tumbang!



Widji Thukul bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963 – hilang sejak 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun). Dikenal sebagai penyair dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.


Previous Post Next Post