Breaking News

Download Gratis The Act of Killing

Anwar Congo dan teman-temannya adalah tokoh masyarakat terpandang, preman terkenal, dan pembunuh massal. Pada 1965, sebagai bagian dari pergantian rejim pemerintahan di Indonesia yang didukung negara Barat, mereka naik pangkat dari preman kecil-kecilan calo bioskop menjadi pasukan pembunuh paramiliter, yang dalam waktu kurang dari satu tahun, membantu Angkatan Darat membasmi lebih dari satu juta orang yang dituduh kiri, etnik Tionghoa, seniman, dan cendekiawan. 

Jagal bercerita tentang para pembunuh yang menang, dan wajah masyarakat yang dibentuk oleh mereka. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan. 

Kecintaan pada Sinema
Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean, John Wayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat. 

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada produser filmi. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: Mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.[ disarikan dari jagal.com ]

Dalam publikasi melalui youtube dijelaskan bahwa proses produksi Jagal (The Act of Killing) dilakukan dengan cara mengundang Anwar dan rekan pelaku pembunuhan lainnya untuk menceritakan kenangan mereka mengenai pembunuhan. Tetapi gagasan mereka tidak untuk dituangkan dalam sebuah film dokumenter "Mereka ingin membintangi jenis film yang mereka gandrungi dari era percaloan tiket di bioskop. Film Jagal menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rejim yang dibangun dengan genosida--dan tak pernah dimintai pertanggunggugatannya--mencitrakan dirinya dalam sejarah," jelas Anon Dua dalam keterangannya di youtube.

Ketika mulai mempublikasikan proses pembuatan film ini pada 17 Des 2013, Anon Dua juga menjelaskan kepada masyarakat  seperti ini: "Bagi yang ingin menyelenggarakan nobar bersama teman atau keluarga, silakan hubungi email anonymous@final-cut.dk atau lewat inbox www.facebook.com/filmjagal."

Jika ingin menyaksikan proses pembuatan film dapat melihat dalam youtube Anon Dua. Atau download melalui www.actofkilling.com.  Tapi kalau kesulitan dapat donwload melalui torrents di sini.

  

Sutradara: Joshua Oppenheimer

Starring: Anwar Congo, Herman Koto, Adi Zulkadri, Ibrahim Sinik, Japto Soerjosoemarno, S.H., Rasyid Soaduon Siregar, B.A., H. Anif Shah, Sakhyan Asmara