Breaking News

Kabupaten Wonogiri Tempo Doeloe (1)

Sejarah Wonogiri punya benang merah dengan perjuangan Raden Mas Said yang dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa (Mangkunegoro I). Ketidakadilan kolonial Belanda dan elit kerajaan di Surakarta pada masa 1740-an, membuat Raden Mas Said melakukan perlawanan bersama pengikutnya. 

Upaya perlawanan Pangeran Sambernyawa diawali dengan menyusun kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan sederhana di daerah Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Peristiwa itu terjadi pada hari tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jumakir windu Sengoro, dengan candra sengkala Angrasa Retu Ngoyag Jagad atau tahun 1666 dalam kalender Jawa. Dalam perhitungan kalender Masehi bertepatan dengan hari Rabu, tanggal 19 Mei 1741 Masehi.

Pada masa itu, situasi tanah Jawa dalam situasi krisis. Pada tahun 1740, di Batavia terjadi pembantaian orang Tionghoa yang dilakukan Kompeni Belanda (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Adrian Valckenier. Peristiwa itu memicu pembangkangan massal dan perlawanan bersenjata di Surakarta yang dikenal sebagai Perang Tjina melawan Ollanda. Orang Tionghoa dan Jawa bersatu melawan Belanda. Ibu Kota Mataram di Kartasura yang dianggap dekat dengan VOC turut diserbu pasukan Tioanghoa dan Pasukan Jawa. Komandan pasukan Tionghoa, Kapten Sie Pan Jang diketahui menjadi guru militer Raden Mas Said.

Kalangan Istana Mataram terpecah dalam dua kelompok. Faksi Patih Natakusuma termasuk Raden Mas Said memilih melawan VOC dengan jalan bergabung bersama perlawanan pasukan Tionghoa. Raden Mas Said kemudian memilih pergi meninggalkan Keraton Kartasura, menyusun kekuatan di Laroh, sekitar Wonogiri. Raden Mas Said memimpin pasukan pemberontak yang bergerilya selama 16 tahun.

Dalam perjuangannya, Raden Mas Said melakukan kerjasama dengan Sunan Kuning dan Pangeran Mangkubumi. Ketika bekerjasama dengan Sunan Kuning, Raden Mas Said dibekali dengan kepandaian mengatur strategi serta cara menggunakan senjata dan kemudian diangkat sebagai senopati yang bergelar Pangeran Prangwedana memimpin 300 orang prajurit berani mati. Pertempuran pertama yang dilakukan bersama Sunan Kuning adalah melawan prajurit Kompeni dan prajurit dari Ternate. Hasil dari pertempuran tersebut adalah Raden Mas Said memperoleh kemenangan. Setelah menaklukkan Madiun dan Ponorogo, Raden Mas Said berpisah dengan Sunan Kuning yang kemudian tertangkap dan di buang ke Ceylon.

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri terkait erat dengan perjuangan Raden Mas Said ketika mulai menyusun kekuatan di daerah Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri (19 Mei 1741 M). Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden Mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri (Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.

Bagaimana wajah Kabupaten Wonogiri tempo doeloe? Berikut hasil penelusuran foto-foto yang didokumentasikan di Belanda: Walau upaya perlawanan terhadap kolonial Belanda sudah dirintis 19 Mei 1741, liberalisme pada era Hindia Belanda tetap berjalan pasca 1800-an dengan lahirnya sejumlah industri di Wongiri. Itu ditandai dengan berdirinya rumah dinas pejabat pengelola industri dan jalur trasportasi di kala itu.

Administrateurswoning van onderneming Mento Toelakan bij Wonogiri 1900
[Kroping dari KITLV]

 Administrateurswoning van indigo- en koffieonderneming Tiris bij Wonogiri 1900
 [Kroping dari KITLV]

 Europese woning te Wonogiri 1910
[Kroping dari KITLV]


 
Pakoe Boewono X, soesoehoenan van Soerakarta, en zijn echtgenote Ratoe Mas op bezoek te Wonogiri (Feb 1922) [Kroping dari KITLV]


Sorteerloods op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri 1930
[Kroping dari KITLV]

Vervoer per ossenkar van agavebladeren op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri - 1930
 [Kroping dari KITLV]

  Transport van agaveblad per buffelkar op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri 1930
 [Kroping dari KITLV]

 Transport van agaveblad per lorrie op vezelonderneming Mento Toelakan bij Wonogiri 1930 
 [Kroping dari KITLV]